Short trip to Pari Island #2

Postingan ini adalah lanjutan dari postingan sebelumnya.

Belum puas main di laut, kami lanjut naik wahana air yang namanya sofa. Entah salah denger atau memang namanya demikian. Wahana ini ditarik sama kapal, persis seperti pengoperasian banana boat, badan kita akan terjungkal-jungkal (apa ya bahasa tepatnya?), rasanya kayak mau terlempar ke laut. Untuk naik wahana ini kami membayar Rp 40.000 per orang.    

  
Sudah jadi hukum wajib kalau yang namanya liburan harus liat sunset. Apalagi kalau liburan di pantai, ya nggak sih? Ini dia foto sunset yang berhasil gue abadikan.  

 

diambil oleh tourguide gue, bagus ya?
 
Malamnya kami makan ikan bakar di saung-saung yang ada di pinggir pantai pasir perawan. Rasa ikan bakarnya so so lah. Porsinya cukup banyak buat kami yang 1 jam lalu baru makan malam, ada 3 ekor ikan berukuran besar dan beberapa tusuk cumi-cumi. Entah ini porsi karena kami hanya berempat (yang satu sudah ‘pingsan’ di homestay, atau memang porsi itu untuk 5 orang)

  

Hari kedua

Menurut jadwal, jam 5 pagi kami harusnya sudah bergegas melihat sunrise, tapi berhubung sebelum berangkat ke tempat ini gue kurang tidur sehingga rasanya lelah banget, gue memutuskan nggak ikut liat sunrise dan ternyata ngga satupun dari kami yang beranjak dari tempat tidur. 

Pukul 7.30 pagi ketika semua sudah selesai sarapan, kami berangkat ke pantai pasir perawan (lagi). Kalau semalam kami hanya makan di saung, karena pantainya gelap jadi kami nggak bisa melakukan apapun. Kali ini kami bermain canoe. Penyewaan canoe dikenai biaya Rp 60.000 per canoenya dan bisa digunakan selama 1 jam. Nggak nyangka ternyata pengayuh canoenya ini berat minta ampun, gue sampai berfikir mungkin besok gue akan berotot (emang lebay). Kira-kira sampai kejauhan 20 meter, airnya masih tetap dangkal di pantai ini dan gundukan pasirnya tebal. 

  
Kunjungan ke pantai pasir perawan adalah penutup liburan kami. Pukul 10 kapal sudah tib di pulau pari untuk memulangkan kami kembali ke kali adem.

Dari awal gue sama sekali nggak berekspektasi apa-apa sama pulau kecil ini, malahan gue sempat meremehkan, pasti nggak bagus, pasti pantainya kecil dan sebagainya. Memang sih sebelum berangkat gue googling dulu dan akhirnya pilihannya jatuh ke pulau ini, tapi tetep aja gue nggak berharap banyak. Soalnya sebelumnya gue pernah tertipu sama foto pantai yang bagus banget, ternyata sampai di sana nggak sebagus di foto. 

Buat yang suka laut, rumahnya masih di sekitar Jakarta dan nggak bisa pergi jauh-jauh , tempat ini bisa jadi solusi buat berlibur. Pantainya masih bersih banget. Minusnya cuman satu, gue kebagian catering yang kurang enak. Nggak apa-apalah ya, toh cuman 2 hari 1 malam di sana.

Ps: jangan lupa bawa flashdisk untuk copy foto-foto dari kamera tour guidenya. Kalau lupa harus keluar biaya lagi buat burning cd. 

Thanks for reading 🙂

Short trip to Pari Island #1

Yeay akhirnya berkunjung juga ke salah satu pulau di kepulauan seribu, tepatnya pulau pari. Perjalanan dari dermaga ke pulau pari menghabiskan. waktu 2-3 jam dari pelabuhan kali adem, kami (gue dan rombongan) sudah harus tiba di dermaga pukul 5.30. Untuk masuk ke dermaga, kami dikenakan biaya Rp 2000. Kapal yang mengangkut kami merupakan kapal kayu berukuran besar, tediri dari dua tingkat. Tingkat bawah berisi kursi-kursi, tingkat atas tidak ada kursi sehingga duduknya harus selonjoran. Tingkat atas terdiri dari bagian yang terbuka dan tertutup. Kapal ini bisa mengangkut kurang lebih 100 orang penumpang.

  kapal yang kami tumpangi
 

pemandangan dari sebelah kiri dermaga
 
Sehubungan dengan high season dan rombongan gue hanya berjumlahkan lima manusia, gue membayar sejumlah Rp 500.000 untuk naik kapal, menginap, makan, snorkling, sewa sepeda, makan ikan bakar, kamera underwater, menikmati senja dan ditemani seorang tour guide selama 2 hari penuh. Semakin banyak jumlah rombongan kita, maka semakin sedikit jumlah yang perlu kita bayarkan.

Sesampainya di pulau pari, kami langsung dibawa ke penginapan – homestay. Penginapannya cukup nyaman, terdiri dari 3 ruang, ruang tv yang juga dilengkapi kasur, dua kamar dan satu kamar mandi. Meskipun kedua AC di penginapan nggak bekerja secara sempurna, yang satu bisa mati sewaktu-waktu dan remotenya juga nggak berfungsi, untungnya suhu ruangan cukup adem, nggak bikin kami kayak bersauna di dalam.

Tempat pertama yang kami singgahi di pulau ini adalah pantai bintang. Kami mengendarai sepeda untuk sampai ke sana. Selama di sana kami selalu mengendarai sepeda untuk ke setiap tempat. Sesuai dengan namanya, di pantai ini terdapat banyak bintang laut, gue juga sempat menemukan 2 ekor kepiting kecil, salah satunya berwarna biru dan juga ada ikan-ikan kecil yang mirip kecebong.

 

pantai bintang
   
Setelah dari pantai bintang, kami kembali lagi ke penginapan untuk makan siang. Pukul 1 siang kami dijemput untuk snorkling. Buat yang nggak jago berenang dan penakut kayak gue, snorkling ini nggak bener-bener seru, geraknya susah karena harus pake life vest, tapi kalo nggak pake takut tenggelam. Dilema banget. Belum lagi setelah snorkling, dagu gue lecet-lecet karna bergesekan terus dengan life vest. Tapi lumayan sih bisa liat ikan-ikan cantik dan bagian naik kapalnya seru banget banget. Sebenernya ada tiga destinasi untuk snorkling, berhubung di tempat yang satu lagi katanya ombaknya besar, kami hanya dibawa kedua tempat.

diambil oleh tourguide dengan kamera underwater
Sampai di sini dulu ya. Nanti akan dibuat part 2nya.

Thanks for reading 🙂

Hanbok experience

Penggemar drama Korea dan Kpopers (kpop lovers) pasti tau apa itu Hanbok dan diantaranya dapat dipastikan pengen banget nyobain pakaian tradisional asal Korea ini. Buat yang nggak tau Hanbok itu kayak apa, bisa lihat gambar di bawah ini. 

Royal hanbok
   
 
Sumber foto dari sini
Sebenernya pengalaman nyobain Hanbok ini udah hampir tiga tahun yang lalu. Tapi ‘feel’nya masih berasa sampe sekarang, lebay ya? Jadi waktu itu gue diajak teman gue ke mall Taman Anggrek (TA), karena di sana sedang ada Korea Indonesia Week. Acaranya berlangsung kurang lebih seminggu. Awalnya gue sama temen gue nggak tau kalau bakal ada booth Hanbok Experince di sana, karena setau kami jadwal untuk acara hari itu adalah Kfood Festival. Jadi bisa dibilang nyobain Hanbok ini sama sekali nggak terencana. Karena nggak ada ekspektasi apa-apa, rasanya seneng banget banget begitu ngeliat booth Hanbok tersebut, walaupun harus ngantri sampe pegal. Begitu dapet giliran, sang petugas langsung membantu gue memakai Hanbok tanpa sempat milih mau pake Hanbok model dan warna apa. Selesai pake Hanbok, gue difoto dengan latar Korean Palace oleh sang fotografer. Malu banget sih sebenernya karena harus berpose di depan banyak orang, untungnya rasa malu gue berhasil dikalahkan oleh rasa senang gue yang luar biasa. Selesai difoto, gue harus segera melepas kembali Hanbok tersebut, betapa nggak relanya, belum ada semenit. Setelah itu gue langsung mendapatkan hasil foto gue dalam bentuk cetak. Asik banget nggak sih? Semuanya gratis tanpa dipungut biaya sepeserpun. Terima kasih banget untuk seluruh pihak yang mengadakan acara ini.

Kalau pengalaman yang kedua sangat terencana, di Korean Cultural Center (KCC). Gue dapat info dari seorang kenalan di kampus perihal KCC ini. Kalau Hanbok Experience di KCC ini ada jadwalnya, dulu mereka rutin mengadakan Hanbok Experience inj dan akan diumumkan lewat website mereka, tapi nggak tau kalau sekarang. Alasan gue pergi ke KCC adalah karena gue berangan-angan akan bisa pake Hanbok dengan model yang berbeda dengan yang gue pake di TA. Ternyata di KCC pun, gue pake Hanbok yang sama persis dengan yang gue pake di TA, memang hanya itu yang muat ternyata 😂. Tapi pengalaman pake Hanbok di KCC lebih enak, gue bisa pake Hanboknya lebih lama sambil berjalan-jalan mengitari KCC, berasa puteri kerajaan sehari (maafkan). Hanbok Experience di KCC ini juga sama sekali nggak dipungut biaya, hanya perlu registrasi dan jangan lupa bawa kamera sendiri atau bisa pake kamera hp buat mendokumentasikan.

 

ini saya
 

Ternyata pake Hanbok itu nggak seribet yang gue bayangkan. Soalnya kalo liat di drama, Hanbok ini banyak lapisannya. Mungkin memang Hanbok yang gue pake ini disediakan khusus untuk acara simpel kayak Hanbok Experience. Bagian bawahnya, yang terlihat seperti rok, berwana pink tua adalah baju panjang bertali satu, cara memakainya seperti pakai sarung, hanya ini dipakai sampai dada, lalu tinggal dilapisin sama luaran berwana pink muda, jadi deh!

Buat yang pengen tau soal KCC bisa cek di sini.

Thanks for reading 🙂