Expect less

Perihal memilih kado itu susah-susah gampang. Seumur hidup, saya belum pernah menghabiskan waktu hanya 30 menit untuk membeli sebuah kado. Malahan, saya sudah sibuk cari referensi seminggu sebelumnya. Setiap hari bisa jadi kerjaan saya browsing sana sini atau pergi ke toko-toko. Ribet ya. Saya yakin sih bukan saya aja yang begini. Karena ketika kita memberi kado tentunya kita ingin kado kita bisa bikin si penerima seneng atau minimal berguna buat dia, jadi nggak mungkin sembarang pilih.

Kalau sudah menghabiskan waktu yang cukup banyak gitu, nggak mungkin dong yang kita hadiahkan ini seorang stranger yang baru diajak kenalan kemaren sore. Pasti ada hubungan spesial. Entah hubungan spesial sebagai orang tua dan anak, teman, pacar dll.

Lalu apa jadinya kalau secara nggak sengaja kita menemukan kado kita dijual? Padahal hubungan kita dengan orang itu baik-baik saja, yah.. paling enggak kita menganggapnya begitu.

Kalau saya pribadi sih bakal sedih, dan kepikiran berhari-hari karena terlalu takut untuk nanya secara langsung sama orangnya dan berujung adanya sedikit goresan pada hubungan saya dan orang itu. Duh nggak sehat banget. Oleh karena saya nggak ingin tenggelam dalam pikiran yang nggak sehat, maka saya memutuskan bertanya ke beberapa teman untuk melihat dari sudut pandang mereka.

1. Hak

Barang yang sudah diberikan kepada orang lain, maka barang tersebut sepenuhnya menjadi hak si penerima (L)

Hak berarti si penerima bebas melakukan apapun terhadap barang tersebut. Mau dijadikan horcrux sekalipun terserah deh. Well ini sepele banget. Tapi entah kenapa saya bisa lupa. Saya merasa ketika saya memberi kado ke orang lain, saya punya hak untuk melihat barang itu baik-baik saja sampai tahun tahun berikutnya, sehingga sudah menjadi wajib hukumnya orang tersebut menjaga dengan baik pemberian dari saya. Menurut saya menjaga itu adalah sebagai bentuk penghargaan. Karna saya selalu melalukan hal yang sama terhadap pemberian orang lain, sehingga saya berekspektasi orang lain akan melakukan hal yang sama. 

“Dalam hal memberi, ekspektasi aja udah salah” ST.

2. Bahagia

Setiap orang punya cara bahagianya masing-masing (L)

Bukankah tujuan awal kita memberi kado ingin membuat dia senang? Paling enggak kita berharap seperti itu. Namun kenyataanya dia malah mual setiap melihat kado dari kita. Jadi jalan satu-satunya adalah menyingkirkan kado pemberian kita, misalnya dijual. Setelah kado kita hilang dari pandangannya dia merasa jauh lebih baik, apalagi kalau uang hasil penjualannya tadi bisa dia pakai untuk hal lain yang bisa bikin dia senang. Nah kan tujuan awal kita jadi tercapai secara nggak langsung.

3. Sudah tidak layak (A)

Tentu kalau poin yang satu ini sangat bisa diterima akal sehat. Buat apa menyimpan benda yang sudah tidak layak disimpan? Semisal baju yang sudah kekecilan atau sesuatu yang sudah berkarat. 

4. Butuh uang

Kado dari kita punya nilai jual dan kebetulan banget dia lagi butuh uang sehingga jalan terbaik adalah menjual kado dari kita. 

Tentu situasi tersebut bisa diterima, malahan kita bakal bantu dia lebih kalau bisa. Tapi gimana kalau kado pemberian kita tadi kalau dijual kembali hanya cukup untuk membeli sekotak salad phd? itupun masih perlu ditombokin buat bayar delivery chargenya. Terus dia bukan berada di golongan orang yang segitu nggak punya uangnya sampai harus menjual kado kita untuk makan?

Hm, kalau diandai-andaikan terus nggak akan ada habisnya dan cuman bikin sedih. Intinya dalam memberi kado atau apapun itu bukan cuman ketulusan yang dibutuhkan, karna kalau memberi ke orang yang spesial kan nggak mungkin nggak tulus. Melainkan jangan ada eskpektasi apa-apa. Bahkan ketika rasanya kita sudah memberi sesuatu yang sudah pas banget. Because people change.

Thanks for reading 🙂