Happy Birthday

Pernah nggak sih dalam hidup rasanya bersyukur banget sudah dipertemukan sama seseorang, orang-orang atau suatu komunitas?

Begitu lulus dari SMA, saya punya tekad, pokoknya saya nggak boleh jadi orang yang sama. Saya nggak mau terus-terusan berada di zona nyaman saya, punya temen yang itu-itu aja dan nggak berani menunjuk diri sendiri. 

Beruntungnya saya, kampus saya mensyaratkan setiap mahasiswanya mengumpulkan skp (semacam poin-poin) sebagai syarat kelulusan. Skp ini bisa kita dapat dari kepanitian di kampus, pengurus senat, lomba dll. Hal ini semakin mendorong saya untuk bergabung di sebuah komunitas di kampus.

Singkat cerita setelah melewati dua proses seleksi, saya diterima menjadi calon anggota di sebuah UKM. Iya masih calon. Saya masih harus ikut pelatihan lagi selama tiga hari, kalau tidak ikut berarti gagal jadi anggota. Wah saya takjub banget, saya fikir hanya akan dipelonco-pelonco nggak jelas selama tiga hari itu, ternyata kami bener-bener dibekali banyak materi, full time. 

Di mata orang-orang luar, UKM saya ini terkesan berat dan sibuk. Padahal nggak begitu, ada saatnya kami memang sibuk dan harus serius. Tapi kami juga sering senang-senang bareng, entah nyobain cafe yang baru buka, dateng berenam, hanya pesan dua menu atau sekedar karaoke. Ah rindu…

Sampai hari ini, setiap kali saya mengingat acara pertama yang saya kerjakan, selalu ada rasa hangat di hati saya dan saya nggak bisa menahan diri untuk tersenyum. Yang pertama itu memang selalu berkesan banget ya. Tapi setiap kepanitiaan sebenarnya selalu berkesan, entah tempatnya, kelakuan peserta buat digosipin di belakang, nasi goreng rumput yang untungnya nggak bikin sakit perut dan tentunya selalu ada pembelajaran yang berbeda.

Selamat ulang tahun UKMku. Terima kasih untuk kesempatan, setiap pembelajaran yang menjadikan saya seorang saya, setiap momen dan orang-orang luar biasa yang nggak pernah saya bayangkan akan saya temui dalam hidup saya. Saya sangat bersyukur menjadi bagian dari kalian.

Semoga selalu jadi tempat belajar bagi setiap orang yang mau belajar. Tetap eksis dan terus berkarya ❤️

Thanks for reading 🙂

Somewhere Only We Know.

 
Untuk sinopsisnya bisa klik ini

What is the best thing in life but knowing you’re loved? – Kenzo.

Saya mau kasih empat bintang untuk novel ini. Gaya penulisannya menurut saya fresh, beda dari novel-novel romance fiction yang pernah saya baca. Rasanya ada begitu banyak kosa kata yang dituangkan dalam novel ini, seperti hampir nggak ada pengulangan. Eh ada sih, tapi nggak banyak, pokoknya nggak ada kalimat-kalimat basi yang bikin bosen. Oh seandainya saya dianugerahi kemampuan menulis macam ini.

Dua tokoh utama dalam novel ini punya karakter yang beda banget, ya secara mereka juga beda jenis kelamin sih. Ririn, ‘cewek tulen’ yang suka berdialog dalam hati sukses bikin saya senyum-senyum dengan segala kalimat super lebaynya. Kenzo, adik Ririn, setiap kalimat yang dia ucapkan… OMG quotable banget *brb tulis jadi caption foto di instagram*. 

Bagian mendongeng tentu saja jadi part favorit saya. Dongeng yang sama sekali nggak klise. Yes I am #teamArik. Terakhir, novel ini sukses bikin saya pengen napak tilas ke Hanoi. 

Minusnya dari novel ini, ada beberapa kata dalam bahasa Prancis tidak diberikan penjelasan artinya apa. Mungkin saya bisa cari di google translate, tapi rasanya lebih nikmat jika diberi penjelasan di footnote #pembacamalas. Udah gitu ada kesalahan cetak yang sempet bikin saya harus mencerna dua kali, loh ini siapa maksudnya? Terakhi ada hal-hal mengganjal yang rasanya pengen banget saya tanyakan ke penulis.

Dear Alexander Thian, saya siap ikutan PO buku fiksi kedua 😆

Thanks for reading and have a wonderful day! 🙂

Eh, ini nggak spoiler kan?

4K Unlike

Siapa yang nggak tau KPop? Orang yang nggak suka Kpop sekalipun pasti pernah denger istilah yang satu ini. Jujur aja, saya luar biasa kagum sama orang Korea, cara kerja mereka bisa dibayangkan pasti luar biasa banget sampai bisa bikin artis-artisnya go international tanpa harus menyanyikan lagu berbahasa Inggris. Sekali lagi, tanpa menyanyikan lagu bahasa Inggris. Mereka juga punya ciri khas sendiri yang kemudian juga jadi trend dan banyak ditiru di belahan dunia manapun. Termasuk saya, saya jadi suka beli bb cream korea, padahal pake bb cream Korea nggak bikin saya berubah jadi Bae Suzy.

Di Indonesia sendiri, demam kpop ini luar biasa banget. Liat aja, setiap ada konser yang nonton pasti banyak banget. Nggak sedikit juga yang bela-belain berangkat jam tiga pagi dari rumah padahal open gate jam lima sore, bahkan ada yang tidur di trotoar sehari sebelumnya. Semua dilakukan demi sang idola. Hm luar biasa bukan semangat mereka? Salah? Enggak, itu urusan masing-masing.

Rasa semangat mereka ini juga menajalar kemana-mana, contohnya aktif banget ngebully di akun media sosial artis Indonesia yang dituduh plagiat idola mereka bahkan sampe berantem, fans kpop vs fans artis Indonesia. Bahkan sebuah video yang dituding plagiat sukses mendapat 1.381 komen yang sebagian besar isinya makian, beserta 5K like vs 4K unlike.

Buat saya sah-sah aja kok mau mengidolakan siapapun. Punya idola itu bagus, kita jadi punya seseorang yang bisa menginspirasi agar hidup kita jadi lebih baik. Tapi rasanya kok pada lupa jati diri ya? Padahal masih berpijak di tanah Indonesia, makan hasil bumi Indonesia, kulitnya juga bukan kulit putih susu dan glowing macam orang Korea.

Saya nggak bermaksud sok nasionalis, buktinya saya masih suka beli bb cream Korea. Tapi saya sedih liat orang Indonesia yang berkarya malah menuai caci maki (bukan kritikan membangun) dari orang Indonesia sendiri sambil menjunjung tinggi artis kpop. Saya kalau jadi orang Korea sih ketawa banget ngeliatnya. Kalau memang itu plagiat, rasanya cukup direport, lalu tinggalkan tanpa harus menyakiti perasaan orang-orang yang berkarya tersebut. Mereka masih manusia, lho.

Saya nggak benci kpop. Tulisan ini sama sekali nggak bermaksud menggeneralisasikan fans kpop, saya tau masih banyak fans kpop waras yang nggak mungkin buang energi untuk maki-maki karya orang.

Thanks for reading 🙂