Gaji pertama dong….

“Udah terima gaji pertama dong? Inget aku ya, beliin ini”

“Gaji pertama harus kasih upeti ya buat gue, kan gue dulu…”

“Makan-makan dimana? Pokoknya gaji pertama harus traktir, kalo enggak ditagih terus”

“Kak, gaji pertamanya beliin lah si A, B,C baju, nggak usah yang mahal-mahal”

Itulah segelintir kalimat-kalimat yang saya dengar akhir-akhir ini. Buat saya, hal tersebut bukanlah hal menyenangkan. Gimana enggak, saya aja belum bersenang-senang dengan gaji pertama saya, eh udah banyak orang minta disenangin. Bukannya pelit, saya juga ngerti kok hidup ini harus berbagi. Berbagi kesenangan aja, susahnya nggak usah. Tapi kalau ditagih-tagih gitu rasanya jadi dongkol, ya nggak sih? Saya jadi merasa seolah-olah saya punya hutang sama orang-orang tersebut.

Yaelah itu cuman basa-basi kali, kata si adik begitu saya cerita. Hm basa-basi yang bikin tak nyaman πŸ™‚

Pernah mengalami situasi seperti ini juga nggak sih? What do you think? 

Advertisements

DilanΒ 

Ihiy kesampean juga baca buku ini tanpa harus beli πŸ˜€ Kenapa saya nggak mau beli? Soalnya saya takut, takut kecewa. Saya berasumsi buku ini sudah tidak cocok lagi dengan selera bacaan saya, mengingat isinya tentang tentang anak SMA. Eh, ternyata saya suka!

Buku Dilan diceritakan dari sudut pandang Milea. Jadi seolah-olah kita sedang membaca buku catatan Milea tentang kisahnya dengan Dilan di tahun 1990. Saya sendiri memang lebih suka gaya bercerita yang seperti ini, dari sudut pandang orang pertama. Rasanya jadi lebih dekat dengan tokoh. 

Cerita dalam buku ini mengambil tempat di Bandung. Membacanya bikin saya membayangkan udara dingin dan kabut. Tapi kata Milea sih, Bandung yang sekarang sudah tidak seperti itu.

Pengunaan kalimat-kalimat dalam buku ini menurut saya sederhana banget, nggak ada kalimat-kalimat ala-ala quotes yang bisa dijadiin caption instagram gitu, tapi dalam kesederhanaannya itu, buku ini berhasil mengambil tempat di hati saya. Percakapan Dilan dan Milea selalu berhasil bikin saya ketawa-ketawa, sederhana dan singkat tapi lucu. Tapi entah mengapa, saya merasa buku ini kayak nggak lulus revisi karena berantakan. Mungkin sengaja dibuat seperti itu.

Soal tokoh, Milea menurut saya bukan karakter extraordinary. Mungkin karena buku ini lebih banyak bercerita tentang Dilan. Jadi karakter Milea kurang tergali. Kalau Dilan, yah rasanya nggak mungkin untuk nggak jatuh cinta sama karakter ini! Dia tidak diceritakan memiliki fisik yang sempurna, manalah dia anak geng motor! Hahaha. Tapi segala kreativitas dan humornya bener-bener bikin jatuh hati. Dilan yang memberikan Milea buku TTS yang sudah terisi sebagai kado ulang tahun. Dilan yang mengirimkan undangan untuk datang ke sekolah untuk Milea, yang sebenarnya nggak perlu. Dilan yang bisa ngajak ngobrol bibik yang kerja di rumah Milea di telfon saat Milea ternyata tidak di rumah. Dilan yang terkesan bandel tapi jago dalam pelajaran. Dilan yang kritis soal bagaimana guru seharusnya memperlakukan murid. Ah.

Ada hal yang menggelitik menurut saya dari cerita Dilan dan Milea ini. Lucu bagaimana mereka hanya bisa saling komunikasi via telfon rumah jika keduanya tidak sedang bersama. Tapi rasanya komunikasinya jadi lebih berkualitas karena nggak too much.

Secara keseluruhan saya suka buku ini, menghibur dan ringan. Soal skor, 3 dari 5.

“Jangan rindu. Ini berat. Kau tak akan kuat. Biar aku saja” -Dilan

Sudah baca? πŸ™‚

Setelah sebulan kerja

Hari ini tepat satu bulan saya bekerja di kantor baru. Rasanya sejauh ini menyenangkan, masih menyenangkan tepatnya, masih suka pusing sendiri karena ada hal-hal yang belum saya mengerti dan masih merasa awkward sama orang-orang kantor walaupun hampir semua orang di kantor bisa dibilang ramah. 

Ada perbedaan signifikan antara menjadi mahasiswa dan pekerja. Kalau dulu waktu kuliah ada jam-jam bolong dimana saya bisa santai dan ngobrol sama teman-teman, masih punya social life lah setelah selesai kelas. Setelah menjadi pekerja, waktunya pulang ya pulang ke rumah masing-masing. Kebetulan rata-rata orang di kantor sudah berkeluarga, jadi wajar sebenarnya. Lagi pula jarak kantor yang jauh dari rumah ditambah langit yang sebentar lagi gelap pun rasanya nggak memungkinkan untuk bersosialisasi sepulang kerja.

Ketemu dosen buat saya dulu adalah hal yang menakutkan, tapi nggak sebanding sama kalau harus ketemu atasan (padahal ruangannya persis di sebelah saya). Bukannya atasan saya jahat atau gimana, baik malah, tapi ada pressure sendiri ketika mau nanya sesuatu hahaha. Ngomong-ngomong atasan saya suka banget beliin kami makanan, dari makanan ringan sampai berat, love banget deh!

Masih soal makanan, saya jadi teringat kantin kampus. Betapa dulu saya beruntung banget bisa akses ke kantin dengan begitu mudah dan seisi kantin menyajikan makanan enak semua. Itupun saya suka ngeluh kantin panas lah (tapi warga kampus pasti setuju banget), bosen makanannya itu-itu aja, nah sekarang saya rindu banget fasilitas itu. 

Semasa kuliah ada hal-hal yang bisa dihindari, misalnya dosen killer. Saya bisa cari tau jadwal beliau dan kalau beruntung bisa banget dapet dosen yang lebih baik. Nah kalau di tempat kerja ada manusia rese yang nggak bisa dihindari karena kita semua saling terhubung. Contohnya ketika saya bilang saya butuh sesuatu dari dia, dia jawab nggak tau dan begitu saya lapor sama atasan saya, ini orang langsung tau jawabannya. Nyebelin ya? πŸ™‚

Terlepas dari semua itu, sejauh ini saya mencintai pekerjaan saya, saya berharap banget bisa awet-awet di kantor ini.

Jangan baper

Tau dong arti kata baper? Bawa perasaan, kata ganti maaf yang dipergunakan manusia modern setelah si lawan bicara merasa tersinggung (seringnya begitu). Sebenernya kalau boleh jujur, saya sendiri agak sebel, bukan agak, tapi sebel banget sama kata gaul yang satu ini. Seinget saya, kayaknya saya hampir nggak pernah menggunakan kata baper untuk lawan bicara saya. Karena pada dasarnya kita semua punya hati untuk merasa. Jadi kenapa tidak boleh bawa perasaan? 

Sebenarnya kata baper ini bukan kosa kata yang baru. Tapi sampai sekarang baper masih banyak dipergunakan oleh orang-orang. Orang-orang yang butuh filtrasi untuk mulut mereka. Orang-orang yang berfikir kalau perkataan mereka nggak bisa diterima oleh si lawan bicara berarti si lawan bicara baperan, mentalnya kurang kuat, mentalnya butuh ditempa, mainnya kurang jauh, dsb. 

Suatu hari saya pernah bilang ke seseorang, kalau mau orang lain nggak baper (baca tersinggung), butuh usaha dua belah pihak, pihak yang satu nggak boleh ngomong seenak mereka. Terus lawan bicara saya nggak setuju. Dia berpendapat yang sangat bersebrangan sama saya. Di situ saya merasa sedih #edisiserius. Bukannya saya tidak menghargai perbedaan pendapat, hanya saja yang satu ini menurut saya tidak bisa ditawar. Just because you have the right to say anything, it doesn’t mean you need to.

Semua orang terlahir berbeda. Sama kayak orang-orang yang terlahir tanpa filtrasi di mulutnya, ada juga orang-orang yang lahir dengan telinga yang langsung terhubung ke hatinya. Kita nggak pernah tahu seberapa besar dampak dari satu potong kalimat terhadap seseorang.

I know this picture can help you to think.


Source pinterest