Make up buat siapa? Ngapain?

Saya suka banget nonton nonton video tutorial make up. Rasanya ada kesenangan tersendiri melihat perubahan before dan afternya. Meskipun sudah nonton banyak video make up, saya belum jago juga di bidang itu. Yaiyalah, nggak pernah dipraktekin. Sampai sekarang saya belum bisa bikin alis. Beberapa kali saya coba, hasilnya selalu aneh. Padahal kata beauty vlogger, alis adalah koentji!

Make up andalan saya sehari-hari ke kantor adalah lipstick, beneran itu aja. Soalnya males kalau harus bersihin banyak hal di muka habis pulang kerja #capekakutu. Pernah suatu hari coba pakai foundation ke kantor, rasanya menyenangkan. Setiap kali saya berkaca, wajah rasanya lebih flawless karena noda-noda di wajah tersamarkan. Tapi itu hanya bertahan sehari. Nggak kebayang harus double cleansing setiap hari, nambah cost. Ya intinya selain males, pengiritan juga.

Ada yang pernah tanya, ngapain sih lu dandan? Mau ketemu siapa? What the hell?! Gimana saya dandan lengkap dengan shading ya? Kebetulan saya memang sehari-hari hanya di belakang komputer, mentok jalan ke toilet sama mesin fotokopi. Tapi sorry sorry jek, saya dandan buat diri saya sendiri tuh. Ada kesenangan tersendiri saat berkaca dan lihat bibir ada warnanya. Moodnya beda. Apalagi kalau sudah catokan rambut juga, serasa cantik ((serasa cantik, yes)). Yah habis kalau kita sendiri udah nggak merasa cantik kan repot juga. Nanti ke dalam-dalamnya jadi nggak cantik. Aura yang keluar makin jelek deh.

Menurut saya mau dandan atau nggak dandan terserah aja. Itu muka, muka kamu. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang berhak kasih tahu kamu apa yang harus kamu lakukan sama wajah kamu. Your face your rule!

Menurut saya make up adalah bentuk ekspresi diri juga. Ibaratnya pelukis punya kanvas, nah perempuan kanvasnya itu ya wajahnya. Terserah dia mau menyapukan blush on setebal apapun, blush on mau nyebrang lewat hidung, mau bikin gradient lip atau full lip kayak Kylie Jenner, alis menukik kayak logo Nike atau alis ala Korea. Terserah.

Kalau nggak suka dandan ya itu pilihan masing-masing. Jangan lantas karena nggak suka dandan ngejudge yang suka dandan dengan penilaian-penilaian aneh. Ih menor banget sih! Lipstick lo apaan sih? Jelek, ganti sana. Ganjen banget sih lu dandan. Eh tapi kalau belum dandan dibilang kumel, disuruh dandan. Aku harus bagaimana? Ngomong-ngomong saya pernah reflek tanya ke temen (beneran temen lho) apakah dia lagi sakit atau enggak karena terlihat pucat. Ternyata dia belum pakai lipstick. Tapi waktu itu saya beneran concern sama dia, kirain nggak enak badan, saya nggak sadar kalau dia nggak pakai lipstick. Mungkin begitu juga saya terlihat kalau belum pakai lipstick. Tapi kalau bilangnya kumel dan jelek banget kalau belum dandan ya udah lain soal sih.

Nggak usah repot-repot juga ngurusin orang lain pake make up buat siapa. Dia mau pake make up untuk diri sendiri, mau dandan untuk gebetan yang dia suka, mau dandan karena harus ketemu klien, itu urusan dia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s