Dear M,

Saya tahu, kemungkinan besar surat ini nggak akan pernah kamu baca. Hanya saja, saya butuh media untuk menumpahkan kemarahan saya sama kamu. Datang ke rumah kamu? Mama saya bilang tidak usah. Keluarga kamu tipe yang suka cari gara-gara, yang ada hanya memperpanjang masalah. Datang ke gereja tempat kamu melayani untuk membeberkan kelakuan kamu? Ingin sekali saya lakukan sebagai bentuk balas dendam. Tapi saya tahu, kemungkinannya kecil sekali untuk mereka percaya apa yang saya katakan. Saya hanya jemaat reguler, bukan kamu yang setiap minggunya menari-nari di atas sana. Laporin kamu ke polisi? Saya tahu keluarga kamu jauh lebih berada dari keluarga saya, bisa-bisa besok kami tidak makan lagi karena harus bayar pengacara.

Saya masih ingat waktu adik saya masih duduk di Sekolah Menengah Pertama. Waktu itu rambutnya pendek dan pirang karena sering berada di bawah sinar matahari. Kalau saya lihat-lihat sekarang, dulu dia nggak ada menarik-menariknya (sorry dek!). Tapi waktu itu ada beberapa cowok yang naksir dia. Kebetulan salah satu diantaranya ada yang kamu taksir, ya kan M? Saya rasa sejak saat itu kamu mulai membenci adik saya. Kamu mulai dengan cara menyindir-nyindir, kamu ajak teman-teman yang lain untuk menjauhi dia. Selama tiga tahun, keadaan itu terus berlanjut. Pernah suatu hari mama saya datang ke sekolah dan ajak kamu bicara di ruang guru. Saat itu saya tidak di sana. Tapi mama saya bilang, kamu terlihat ketakutan. 

Tiga tahun berlalu sejak kejadian itu. Kamu dipertemukan kembali dengan adik saya di sebuah camp yang diadakan gereja tempat kamu melayani. Saat itu, adik saya melihat kamu dan kamu langsung buang muka. Tapi kemudian kamu bilang di grup sekolah SMP kalian, bahwa adik saya begitu sombong dan tidak mau menegur. Saya diam saja. Kamu bahkan punya utusan untuk memata-matai instagram adik saya. Apapun yang adik saya post selalu berbuah kalimat-kalimat negatif dari kalian. 

Kemarin, empat anak laki-laki yang adalah teman SMP kalian datang ke rumah, menunjukan isi chat-chat kalian yang menurut saya sudah melampaui batas. Kamu memfitnah, menjelek-jelekan, bahkan salah satu dari kalian bilang “kapan sih dia mati?” Seriously? Hati adik saya hancur sekali, dia gemetar dan menangis. Sudah tiga tahun berlalu. Ternyata kamu tidak berubah sedikit pun. 

Sebentar lagi adik saya akan jadi mahasiswi dan ketakutan terbesar dia adalah tidak punya teman. Sebagai kakak, saya sangat sedih mendengarnya. Sudah berkali-kali saya bilang, “lo pasti akan punya teman. Mental mahasiswa itu beda sama anak sekolah. Pasti ada teman”. Saya tahu itu tidak cukup untuk menyakinkan dia setelah apa yang dia alami.

M, salam untuk temanmu yang berinisial P. Bilang ke dia, dia tidak akan pernah menjadi cantik dengan hati yang isinya hanya penuh iri dengki. 

Regards,

Saudara perempuan orang yang kamu bully.

Picture from here

Birthday

I am not excited about it anymore. The fact that I am getting old scares me so much.

Can I buy my own house? Can I go to every places on my bucket list? Can I find a good guy that willing to do the dishes?

Will all these people I call friends still be here with me? 

Will I get better job and salary? Where will I be in five years?

Can I survive somewhere without my family someday?

I don’t want to my hair getting thinner. I don’t want any wrinkles on my face. In fact, I can see wrinkles under my eyes everytime I smile. 

Hari paling nggak fokus

Jadi tadi pagi saya pesan uber motor, hasilnya mengejutkan, saya dapat driver yang baru bisa tiba dua puluh empat menit kemudian di lokasi penjemputan saya *dear Uber, please*. Kemudian saya cancel dong, nggak mungkin nunggu selama itu. Begitu cancel saya dapet lagi driver yang sama, habis itu langsung nyerah pake uber dan pesen gojek. Wah beruntung sekali karena gojek lagi lebih murah dari biasanya, nggak mau kalah mungkin sama uber. Oke saya sadar betul sedang pakai aplikasi gojek, saya juga sadar betul helm yang saya kenakan hijau bukan orange tapi…. saya kemudian mengambil uang lima ribu rupiah dari dompet. Begitu tiba di lokasi, saya mencopot helm, nungguin bapaknya yang kok tidak kunjung ngecek hpnya.. berhubung saya buru-buru langsung aja saya sodorin lima ribu rupiahnya.
“Pak saya dapat promo, paling nol rupiah sih, ini pak” *nyodorin goceng*

“Sudah pakai Go-pay Mbak”

“Oh sudah pakai Go-pay ya? Makasih Pak”

*sambil jalan masih mikir, barusan gue bukan naik uber ya?*

Ok, pagi tadi adalah hari dimana saya paling nggak fokus sepertinya. 

Posted in Uncategorized

Pijat di Martha Tilaar Spa


Udah lama banget pengen pijat-pijat di tempat spa, tapi ngak pernah berani untuk sekedar tengok-tengkok harga karena takut sakit hati, ehhhhh akhirnya kesampean juga. Semua berkat salah satu teman saya yang memberi tahu bahwa ada voucher discount Martha Tilaar Spa di lakupon. Saya nggak punya banyak pengalaman dipijat-pijat, karena enggak pernah suka. Biasanya kalau rasanya bukan sakit, pasti geli. Tapi kali ini Martha Tilaar Spa memberikan saya pengalaman yang berbeda, sampai-sampai pengen balik lagi ke sana, suer! Ngomong-ngomong ini bukan review ya, sekedar berbagi pengalaman dan sama sekali nggak disponsorin oleh Martha Tilaar :(.

Buat teman-teman yang ingin tahu bagaimana bagian dalam spanya, maaf sekali karena saya nggak diizinkan mengambil gambar. Tapi saya akan memberikan sedikit gambaran aja melalui tulisan ya. Awalnya saya pikir di dalam itu sempit, tapi ternyata enggak. Pasalnya waktu mau booking, petugasnya mengatakan kalau hanya bisa dua orang. Mungkin karena saya pakai kupon, jadi dijatahin. Sampai di dalam ternyata tempatnya cukup besar. Bagian dalam itu terdiri dari empat bagian, tempat pijat kaki, salon, kamar mandi dilengkapi shower (tanpa wc) dan tempat pijat (kasur) yang dibatasin gorden-gorden. Di dalam itu nyaman banget, nggak berasa lagi ada di dalama Mall, karena spa ini memang letaknya di dalam Mall. Lampu ruangan yang dibuat redup dan alunan musik jawa yang terdengar, bikin suasana jadi rileks banget.

Sebelum dipakaikan kemben, saya diberi sandal ganti terlebih dahulu dan proses pijatnya berlangsung selama satu jam tiga puluh menit, padahal harusnya satu jam empat puluh lima menit (menurut kupon sih begitu 😛). Sebelum pijat, saya dikasih minuman rasa lemon, tapi warnanya nggak kuning, saya lupa apa namanya. Pemijatannya dimulai dari kaki, tangan dan kemudian punggung. Ah, rasanya enak banget. Bagian yang paling saya suka sih pijat kaki, rasanya kaki jadi enteng banget. Belum lagi pijat bagian telapak kakinya, wah itu luar biasa. Maklum deh kaki saya ini setiap hari dibawa ngejar-ngejar kereta. Apa saya tertidur? Pengen banget, tapi saya berusaha terjaga karena takut kebablasan dan susah dibangunin. Selesai pijat kita boleh pilih mandi atau hanya dilap kain basah dan habis itu kembali dikasih minuman, boleh pilih lemon atau ginger apalah-apalah.


Secara keseluruhan saya suka banget pijat di Martha Tilaar. Pelayanannya memuaskan sekali, kecuali bagian bookingnya. Dari awal mereka sudah menyanggupi untuk mengikuti jam saya. Tapi beberapa jam sebelum jadwal yang sudah dijanjikan, saya malah diminta datang lebih cepat dikarenakan Therapist mau buka puasa. Padahal menurut perhitungan saya, pukul 5.15 acara pijat dapat dipastikan sudah selesai. Setelah didiskusikan mereka menyanggupi jadwal sesuai di awal. Dua jam sebelum janji, saya dapat sms untuk datang lebih cepat, yaelah deh nggak konsisten amat ya. Terlepas dari resenya acara perbookingan, hal itu nggak bikin saya ogah balik.

Berapa sih harganya? Berhubung saya pakai kupon saya cukup membayar Rp 129,000 untuk paket Reflexology dan Aromassage (yang sedari tadi saya singkat jadi pijat-pijat). Punya rekomendasi tempat spa lainnya? Share di kolom comment ya. 

Sekian dan selamat pijat! 🙂

Sisa gigi yang tertinggal

Sewaktu menulis tulisan ini, di mulut saya masih ada kasa, baru saja selesai operasi. Ya, hari ini saya operasi graham bungsu yang kedua kalinya, karena hasil foto panoramic menunjukan ada sisa gigi yang tertingal. Operasi pertama saya sebelumnya sudah saya ceritakan di sini dan apa yang saya alami pasca operasi ada di sini.

Operasi pertama saya mungkin bisa dibilang ngaco (Eh?) sehingga saya harus dua kali operasi di tempat yang sama. Apa saya kembali lagi ke dokter pertama saya yang mengoperasi saya? Ogah, takut. Atas rekomendasi temannya teman yang operasi graham bungsunya juga bermasalah, saya mempercayakan operasi kedua saya ke SmileWorks Dental Care di Kelapa Gading. Kenapa saya akhirnya memutuskan dioperasi di sana? Karena background dokternya luar biasa banget, silahkan cek sendiri, dr. Marzella M. Lestari. Pengalaman operasi graham bungsu mengajarkan saya untuk nggak mudah percaya sama dokter dan jangan percaya sama satu diagnosa aja. Pasalnya saya sempat dirujuk untuk fisioterapi oleh dokter bedah mulut di RS. Mitra karena ada indikasi Trismus. Puji Tuhan saya nggak lakukan itu, karena saya akhirnya bisa memasukan sendok makan ke dalam mulut begitu memasuki minggu keempat pasca operasi pertama. Lumayan save berapa juta itu 😄

Pengalaman operasi kedua ini menurut saya lebih baik dari yang pertama. Operasi graham bungsu kali ini menurut saya persiapannya luar biasa banget, saya seolah-olah mau operasi besar. Beberapa menit sebelum operasi saya disuntik dulu dan rasa sakit jarum suntiknya antara ada dan tiada, haleluyah! Obat biusnya sama sekali nggak pait, rasanya enak di mulut, ada mint-mintnya gitu kayak mouthwash. Setelah itu saya dikasih dua obat minum dan diminta tunggu sebentar di ruang tunggu. Nggak lama saya masuk ke ruangan operasi, tidak boleh pakai alas kaki dan harus pakai baju operasi. Area di sekitar bibir saya olesi cairan yang katanya untuk mensterilkan. Bibir saya diolesi Vaselline, mungkin karena harus mangap dalam jangka waktu yang lama, supaya bibir saya nggak tersiksa. Selama operasi dokternya juga terus-terusan memastikan keadaan saya apakah baik-baik saja dan merasakan sakit atau tidak. Ah love banget dr. Marzella ini ❤️

Pertama kali pakai baju operasi

Selesai operasi saya dikasih lihat serpihan-serpihan gigi yang tertinggal, ternyata banyak! Dan yang lebih bingung lagi, ada satu serpihan yang ukurannya itu cukup besar yang nggak mungkin kasat mata menurut saya. Bingung banget deh kenapa bisa ketinggalan sebesar itu. 

Tulisan ini sama sekali nggak bermaksud menjelek-jelakan rumah sakit sebelumnya ya dan saya sama sekali nggak disponsorin oleh SmileWorks Dental Care. Saya pergi ke rumah sakit pertama karena ada teman yang pernah operasi di sana dan nggak ada keluhan sama sekali setelahnya. Tulisan ini murni berbagi aja apa yang saya alami pasca operasi graham bungsu. Pasalnya saya sempat browsing-browsing apa yang saya alami, kasusnya sedikit sekali. Jadi saya harap tulisan ini bisa membantu siapapun kalian di luar sana yang mengalami hal kayak saya. Tapi saya berharap nggak ada sih, nggak enak banget soalnya. Nantinya saya akan update lagi perkembangan pasca operasi kedua ini. Till next post!