Pergi ke Poli THT

Belum lama ini saya ikut medichal check up yang diharuskan sama kantor. Puji Tuhan semuanya normal, gula, darah, paru-paru dan jantung saya juga baik-baik aja. Oya cerita periksa jantung ini agak lucu, nanti saya buatkan tulisan terpisah ya. Hasil medical check up menganjurkan saya ke beberapa dokter, salah satunya dokter THT. Oh, okay waktunya browsing dokter.

Saya ini orangnya rewel banget soal dokter. Kalau bisa saya harus ke dokter yang sudah ada rekomendasinya dari temen atau rekomendasi dari tulisan orang di internet. Kalau soal flu-flu biasa saya nggak pilih-pilih dokter, tapi kalau udah menyangkut masukin alat ke dalam bagian tubuh, saya super duper ribet karena anaknya penakut banget. Setelah tanya beberapa teman dan browsing-browsing sana-sini, akhirnya saya memutuskan ke RS. Awal Bros untuk ketemu dr. Vika. Soalnya katanya dokternya sabar banget, ini faktor paling penting! Saya paling ogah sama dokter galak.

Sebelum saya duduk di kursi eksekusi, saya nggak lupa tanya kalau ini bakalan sakit atau enggak. Dokternya memastikan nggak bakal sakit dan bener aja memang nggak sakit, untuk telinga kanan saya tepatnya. Saya bingung banget, frekuensi saya bersihin telinga tuh sama aja lho untuk kanan dan kiri. Malahan menurut saya bersihin telinga kiri itu lebih mudah karena lubangnya lebih besar, nggak taunya apa coba? Telinga kiri saya itu kayak sarang laba-laba sewaktu saya lihat di monitor, hitam-hitam gitu, ewh. Nah, untuk pengambilan kotoran telinga kiri ini sulit dan agak sakit. Itupun setelah diakukan tiga teknik pengambilan masih nggak bisa diambil. Tiga teknik pengambilan itu diantaranya pakai alat berupa besi panjang, irigasi dengan semacam selang dan terakhir telinga saya kayak diguyur air gitu, dokternya bilang itu dimandikan. Berhubung nggak berhasil, saya pulang dengan membawa obat tetes yang harus diteteskan selama tiga hari berturut-turut, nanti baru kembali lagi ke dokternya.

Rasanya pake obat tetes telinga persis kayak telinga kemasukan air. Saya tetes telinga saya setiap malam sebelum tidur dan rasanya kayak budek, kempuan mendengar telinga sebelah kiri saya menurun drastis. Saya pasang volume headset paling kenceng pun pelan kedengarannya, begitu pake headset sebelah kanan baru deh terasa kenceng banget volumenya.

Hari sabtu saya pergi lagi ke Rumah Sakit. Ternyata dr. Vika cuti #sedihakutuh. Yaudah mau gimana lagi, udah terlanjur antri lebih baik saya lanjut. Toh jadwal saya yang cocok sama dr. Vika baru sabtu depan lagi, nggak mau juga deh budek seminggu. Dokternya masih sama baiknya kok, tapi saya nggak ingat namanya. Dokternya langsung menganjurkan untuk tindakan irigasi aja dan ehm, sedikit sakit. Suster sempet kasih lihat saya kotoran telinga saya dan OMG itu gede banget! Beneran deh saya penasaran kenapa bisa beda banget gitu ya? Setelah kotoran itu diangkat saya sadar bahwa selama ini tebakan saya benar, kuping saya yang sebelah kiri memang kemampuan mendengarnya kurang, bukan headset kiri saya yang rusak. Fiuh, lega banget sudah ke THT dan telinga kiri jauh lebih baik kemampuan mendengarnya sekarang.

Setelah punya pengalaman ke Poli THT, saya berjanji untuk balik lagi ke THT setiap enam bulan sekali, karena ternyata nggak seburuk yang dibayangkan. Lagipula memang membersihkan telinga dengan cottonbud itu tidak dianjurkan, malah bisa membahayakan telinga kita.

Yuk pergi ke THT! 😁

Advertisements

Cerita soal jerawat

Peringatan: Akan ada foto-foto jerawat yang buat sebagian orang menjijikan. Jadi skip aja buat yang jijik-an.

Suatu hari di bulan September, beberapa hari kepulangan saya dari Vietnam, saya mendapat oleh-oleh dua buah jerawat sekaligus yang letaknya dekat sekali dengan hidung. Ukurannya cukup besar, orang yang bertatap muka dengan saya pasti langsung ‘ngeh’ sama jerawat itu.

Kulit saya bukan tipe yang mudah berjerawat (tadinya). Tapi sebulan sekali saya pasti ada jerawat, biasanya muncul satu di dagu menjelang menstruasi. Udah gitu aja, nggak pernah pindah-pindah. Tapi semua tinggal kenangan setelah pulang dari Vietnam, hiks. Perlahan tapi pasti, jerawat muncul satu-satu, letaknya menyebar di seluruh wajah kecuali jidat. Continue reading “Cerita soal jerawat”

Sisa gigi yang tertinggal

Sewaktu menulis tulisan ini, di mulut saya masih ada kasa, baru saja selesai operasi. Ya, hari ini saya operasi graham bungsu yang kedua kalinya, karena hasil foto panoramic menunjukan ada sisa gigi yang tertingal. Operasi pertama saya sebelumnya sudah saya ceritakan di sini dan apa yang saya alami pasca operasi ada di sini.

Operasi pertama saya mungkin bisa dibilang ngaco (Eh?) sehingga saya harus dua kali operasi di tempat yang sama. Apa saya kembali lagi ke dokter pertama saya yang mengoperasi saya? Ogah, takut. Atas rekomendasi temannya teman yang operasi graham bungsunya juga bermasalah, saya mempercayakan operasi kedua saya ke SmileWorks Continue reading “Sisa gigi yang tertinggal”

Untuk siapapun di luar sana,

 

Tolong baca sampai habis. Siapa tau diantara kalian punya seseorang yang pernah mengalami hal serupa dengan gue.

Hari ini sudah dua minggu lebih sejak gue operasi graham bungsu. Terakhir gue ke Rumah Sakit tempat gue operasi, itu minggu lalu untuk buka jahitan. Gue sempat menanyakan ke dokter mengenai keadaan gue yang menurut gue ‘tidak normal’, katanya kedaan gue normal. Tapi sekarang gue jadi ragu, karena ini sudah dua minggu lebih. Leher gue masih susah nengok, pipi gue dekat gusi yang kemarin giginya diambil masih ada jendolan, bagian bawah pipi gue masih bengkak, rahang gue hanya bisa membuka satu jari, Continue reading “Untuk siapapun di luar sana,”

Operasi graham bungsu

Graham bungsu saya sebenarnya sudah tumbuh lama sekali, mungkin sekitar empat tahun yang lalu. Tapi waktu itu saya berfikir ini hanya tumbuh gigi biasa, jadi nggak mau diambil pusing. Emang sih selama pertumbuhannya, gusi saya sering cenat-cenut, bahkan berdarah kalau kena sikat gigi. Saya konsultasi ke dokter gigi, waktu itu disarankan kumur dengan betadine untuk meredam rasa sakit dan rontgen gigi untuk tahu bagaimana posisi si gigi, apakah perlu diambil atau tidak.

Hal yang saya lakukan dari dua saran dokter di atas hanya berkumur dengan betadine dan nggak pergi rontgen gigi. Continue reading “Operasi graham bungsu”