Untuk siapapun di luar sana,

Tolong baca sampai habis. Siapa tau diantara kalian punya seseorang yang pernah mengalami hal serupa dengan gue.

Hari ini sudah dua minggu lebih sejak gue operasi graham bungsu. Terakhir gue ke Rumah Sakit tempat gue operasi, itu minggu lalu untuk buka jahitan. Gue sempat menanyakan ke dokter mengenai keadaan gue yang menurut gue ‘tidak normal’, katanya kedaan gue normal. Tapi sekarang gue jadi ragu, karena ini sudah dua minggu lebih. Leher gue masih susah nengok, pipi gue dekat gusi yang kemarin giginya diambil masih ada jendolan, bagian bawah pipi gue masih bengkak, rahang gue hanya bisa membuka satu jari, di bawah pipi gue pun masih ada bengkak, lidah gue terasa kelu. Ada apa dengan gue?

Gue berusaha browsing sana sini, tapi nggak menemukan solusi, yang ada malah gue takut karena ada indikasi Temporomandibular Joint Disorder (TMJ) atau Trismus. Hari ini gue juga sudah ke dokter lain untuk second opinion karena ragu untuk kembali ke Rumah Sakit tempat gue operasi. Dokter memegang wajah gue, dia seperti keheranan kenapa masih ada benjolan dengan rentang waktu yang sudah cukup lama. Gue juga sempat diminta untuk mengatup dan membuka gigi gue, dia bilang rahang gue baik-baik saja. Lalu dia menyarankan gue untuk rontgen untuk melihat kondisi rahang gue. Hasil rontgen gue menyatakan tidak ada yang salah dengan rahang gue, hanya saja ternyata dia sana ada serpihan gigi yang tertinggal. Dia bilang, lebih baik kembali ke dokter yang menangani operasi gue. Jujur, gue takut luar biasa, gue nggak mau harus membuka mulut untuk disuntik lagi dan dikuret. Walaupun dia bilang, kuret tidak seperti operasi. Tapi entah kenapa, semua pernyataan dokter terdengar meragukan di telinga gue. Apa mungkin karena gue tidak bisa melihat mimik wajahnya yang ditutupi masker? Ataukah diapun ragu dengan kondisi gue? Atau dia nggak ngerti alasan di balik kondisi gue?

Dia meresepkan gue obat, dia juga merujuk gue ke dokter fisioterapi. Gue merasa sedih yang tidak tertahankan. Gue merasa sekarang gue lagi drama banget. Tapi gue juga nggak bisa nggak merasa sedih atas kondisi gue. 

Untuk siapapun di luar sana, pernahkah ada teman, saudara atau kenalan yang mengalami hal serupa?  

Operasi graham bungsu

Graham bungsu saya sebenarnya sudah tumbuh lama sekali, mungkin sekitar empat tahun yang lalu. Tapi waktu itu saya berfikir ini hanya tumbuh gigi biasa, jadi nggak mau diambil pusing. Emang sih selama pertumbuhannya, gusi saya sering cenat-cenut, bahkan berdarah kalau kena sikat gigi. Saya konsultasi ke dokter gigi, waktu itu disarankan kumur dengan betadine untuk meredam rasa sakit dan rontgen gigi untuk tahu bagaimana posisi si gigi, apakah perlu diambil atau tidak.

Hal yang saya lakukan dari dua saran dokter di atas hanya berkumur dengan betadine dan nggak pergi rontgen gigi. Pasalnya berkumur dengan betadine membantu banget dalam mengatasi sakit. Jadi saya pikir sudah tidak ada masalah. Tapi setelah dipikir-dipikir, sampai kapan mau berkumur dengan betadine? Lagipula saya merasa makin ke sini rasanya posisi gigi di depan graham bungsu ini makin nggak beres, dia semakin terdorong, belum lagi makanan suka nyangkut di dalam gusi si graham bungsu, lumayan bikin cenat-cenut. Terkadang lidah saya juga saya julurkan ke gusi graham bungsu dan ada bau tidak sedap dari sana sehingga saya jadi kurang pede.

Akhirnya dua minggu lalu saya putuskan rontgen gigi dan ternyata posisi graham bungsu saya posisinya miring, persis seperti gambar di bawah ini. 


Sumber foto
Hasil googling sana sini menyatakan kalau si graham bungsu harus dioperasi. Mendengar kata operasi saya ciut banget. Belum lagi biaya yang harus dikeluarkan tidak sedikit. Operasi graham bungsu ditangani oleh dokter bedah mulut, bukan dokter gigi biasa.

Tiba saatnya saya harus dioperasi. Saya disuntik sebanyak empat kali dan rasanya lumayan cekat-cekit sewaktu si jarum menusuk gusi saya. Dokter bilang, posisi gigi saya ini susah banget, sehingga gigi saya tidak bisa diambil dalam keadaan utuh, harus dipecah dulu. Dokternya juga menyampaikan kalau kemungkinan ada dampak kesemutan yang akan timbul di sekitar bibir saya dalam waktu yang lama, sekitar tiga bulan sampai setahun karena ini berhubungan dengan saraf. Kedengarannya memang menakutkan banget, bahkan saya sampai memastikan ke dokter kalau ini bukan hal yang membahayakan.

Operasi dimulai. Rasanya nggak sakit, tapi seolah-olah tulang rahang saya mau copot, saya sampai mengangkat tangan beberapa kali. Tapi dokternya mengabaikan saya 😂. Sangkin lebaynya rekasi saya, dokter sampai meminta asistennya untuk memegangi kepala saya. Begitu dokter bilang sudah selesai dan tinggal dijahit, rasanya lega luar biasa!! Ini untuk pertama kalinya saya dijahit dan saya bisa merasakan benangnya di bibir saya waktu dokternya menjahit.

Ini sudah hari kedua setelah saya operasi. Gusinya sudah tidak sakit,  justru tenggorokan saya yang sakit sehingga saya susah menelan apapun dan pipi bengkak. Tulisan ini bukan bermaksud menakut-nakuti, hanya mau berbagi pengalaman saya dioperasi. Reaksi tubuh setiap orang tentunya beda-beda. Teman saya sehari setelah operasi sudah bisa makan ayam McD hahaha, saya mau nelan bubur aja nggak bisa. Saya bahkan sempat demam beberapa jam setelah operasi, sedangkan teman saya tidak sama sekali, cukup minum obat, tidur dan begitu bangun sudah hilang rasa sakitnya.

Biaya operasi graham bungsu beragam, tergantung rumah sakit dan tingkat kesusahan gigi kita. Kebetulan saya ambil di Lakesgilut AU di halim (RSGM AU), harganya satu setengah juta sampai  dua setengah juta (bisa berubah sewaktu-waktu). Buat siapapun yang mau operasi graham bungsu, lebih baik jangan ditunda-tunda deh, biar cepat selesai rasa takutnya 😄

Belajar dari awal

“Kerja itu beda banget sama apa yang lo pelajarin waktu kuliah. Lo akan belajar lagi dari awal” kurang lebih begitu jawaban yang dilontarkan setiap orang yang saya tanya kerja itu gimana. Awalnya saya nggak percaya, masa iya udah capek-capek belajar seratus empat puluh enam sks nggak kepake sama sekali nanti pas udah kerja?Sebelum kerja, saya punya ketakutan yang luar biasa banget. Gimana kalo nanti saya lupa semua teori yang pernah saya pelajarin waktu kuliah? Gimana kalau saya lupa jurnal? Gimana kalau ditanyain isi PSAK? Gimana kalau orang yang saya tanyain merasa jengkel kalau saya nanya terus? Gimana, gimana, gimana. Semua orang bilang, tenang, lo pasti diajarin. Lagian di kantor itu udah pake sistem kali, jadi gampang. Tetep aja saya masih nggak percaya. Bahkan saya sampai ngajak ketemuan salah satu teman SMA saya yang ternyata megang posisi yang sama di kantornya. Walaupun di hari pertemuan kami nggak bahas hal-hal teknis, karena ya nggak mungkin, rasa takut saya cukup berkurang setelah ngobrol sama dia.

Tiba di hari H saya mulai kerja. Hari pertama saya diajarin penggunaan sistem yang dipakai di kantor, gimana cara input data dan cara memperoleh datanya. Hari itu merupakan hari yang penuh tekanan banget buat saya. Bukan, bukan karena orang di kantor. Saya emang punya sindrom takut luar biasa kalau baru mempelajari sesuatu yang baru. Simpel, saya takut nggak bisa, gitu aja. Ternyata apa yang dibilang banyak orang benar. Seluruh jurnal yang pernah saya pelajari, segala macam transaksi yang saya kerjakan waktu kuliah kemarin nggak ada yang kepake sampai detik ini. Ada yang nanyain PSAK? Nggak tuh. Haleluya!

Saya nggak bilang kalau ini berlaku untuk semua bidang pekerjaan ya. Hal ini berdasarkan pengalaman saya dan beberapa teman yang satu jurusan sama saya. Kami juga bekerja di bidang dengan kualifikasi yang sesuai jurusan kami. Kebetulan apa yang saya kerjakan juga spesifik banget di kantor. Duh enggak kebayang sih ngerjain seluruh transaksi, nggak mungkin juga kayaknya. Jadi ya bener, kerja itu belajar lagi dari awal, tapi nggak sebanyak seratus empat puluh enam sks.

Boleh nggak sih nanya terus ke orang kantor? Boleh banget lah, apalagi kalau kita anak baru. Malahan, nanya itu sangat disarankan dibanding sok tahu, karena kantor adalah perusahaan nyata bukan fiktif kayak waktu kita kuliah.

Ini udah bulan ke empat saya kerja di kantor ini. Seluruh ketakutan saya di awal nggak terbukti. Semua orang yang saya tanyain mau banget jawab dengan baik, kecuali satu orang #eh. Akhirnya saya bisa karena terbiasa. 

Till next post 🙂

Jalan hidup orang

Kemarin malam, saya dan seorang teman ngobrol di telfon. Dia minta pendapat soal pekerjaan yang mau dia ambil. Eh, ujung-ujungnya kita jadi ngomongin orang, dasar wanita! Tapi ini bukan bergunjing soal kejelekan orang sih, hanya seputar update keberadaan teman-teman satu angkatan dan salah satu senior yang dulu nggak jarang satu kelas sama kami. Jadi si senior ini, sebut saja namanya Bimbim, sekarang sudah kerja di salah satu Kantor Akuntan Publik (KAP) Big 4. Mendengar hal itu, saya nggak bisa menyembunyikan rasa terkejut saya, maaf Bim. Si Bimbim wisuda bareng saya. Catatan, saya lulusnya aja telat lho. Saya bilang sama teman saya, dulu dia kelihatan madesu (masa depan suram) *sambil ngaca* tapi lihat sekarang, dia di Big 4, gila ya!
Lain lagi teman SMA saya, namanya Yati (bukan nama sebenarnya) kalau ke sekolah ya cuman untuk absen aja, main sama teman-teman, bikin ribut dan pacaran. Beneran deh dulu dia tipe yang kayaknya madesu, tapi tau nggak sekarang dia dimana? Di perusahaan migas terbesar di Indonesia.

Salah satu teman seangkatan saya, tapi beda jurusan juga punya cerita. Jadi dulu ada salah satu mahasiswi di angkatan dia yang diremehin banget sama teman-teman angkatannya, karena nggak pinter, lulusnya juga lama. Namun dia berhasil mengejutkan orang-orang yang dulu ngeremehin dia dengan bekerja di perusahaan tambang terkemuka di dunia. Hidup benar-benar penuh kejutan.

Orang-orang di atas adalah contoh kalau hari ini buruk, bukan berarti hari esok juga akan buruk. Dan jangan pernah sekali-kali ngeremehin orang, karena kita nggak pernah tahu jalan hidup orang bagimana di depan. Sekarang saya jadi penasaran, apa kabarnya anak-anak di kelas unggulan SMA saya dulu ya? Apa mereka lebih sukses dari 3 orang yang terlihat madesu ini? Atau malah sebaliknya?

Banyak yang bilang perbanyak teman itu penting, ternyata itu bukan omong kosong belaka. Karena terkadang hidup itu bukan melulu soal apa yang kita tahu, tapi siapa yang kita kenal (ini bukan kutipan yang saya buat, saya lupa dengar darimana). Ketiga orang di atas adalah contohnya. Bukan, saya nggak punya maksud menjelekkan mereka, saya yakin itu hanya jalan tapi balik lagi kemampuan mereka yang menentukan. Saya pun kerja di kantor saya sekarang nggak lepas dari bantuan teman yang ngasih tau kalau kantor dia butuh orang. Kalau enggak, saya nggak tau saya ada dimana sekarang.

Semoga selalu diberkati dan penuh syukur. Till next post 🙂

Pak tolongin Pak!

Malam itu kereta berhenti agak lama di salah satu stasiun menuju tempat tinggal saya. Saya berdiri dengan nyaman sekali di samping bangku prioritas di dekat pintu. Kemudian tiba-tiba saya menyadari ada tiga laki-laki berumur sekitar dua puluh tahunan berdiri di depan saya, walaupun agak terlahalang oleh seorang bapak-bapak. Awalnya saya pikir mereka bertiga berteman dan sedang becanda satu sama lain, rupanya dua dari ketiga laki-laki itu copet! Ya Tuhan.

Saya nggak ingat persis apa yang dilontarkan sama si korban sampai akhirnya saya tahu kalau dua dari mereka adalah copet, saya hanya mendengar sekilas soal “hp gue, hp gue”. Si korban dalam posisi memeluk kedua copet agar tidak kabur ketika berada di depan saya. Seperti kebanyakan maling, kedua copet nggak mau ngaku, si korban berusaha meminta tolong kepada orang sekitar dan meminta teman perempuannya untuk nelfon ke hp dia. Saya yang berada dekat dengan mereka ikutan takut kalau si copet kabur dan hp korban nggak kembali. Saat itu di gerbong saya nggak ada petugas keamanan dan banyak bapak-bapak di sekitar kami yang hanya diam saja, mungkin bingung, mungkin juga takut. Saya berdiri di depan pintu dengan sok beraninya memegang baju salah satu si copet, takut dia kabur. Padahal dalam hati saya juga degdegser. Kebetulan di sebelah saya berdiri seorang bapak yang kalau secara penampilan fisik lebih kuat dari saya, saya minta tolong bapak itu “Pak tolongin Pak” si Bapak hanya balas menatap saya. “Pak tolongin Pak” Bapak itu masih diam saja. Saya bingung. Di satu sisi saya kasihan sama si korban, di sisi lain petugas kemanan tak kunjung datang, di sisi lain lagi saya kesal bapak di sebelah saya tidak bergeming, di sisi lain lainnya lagi saya takut didorong sama copetnya, karena dia sempat menatap saya. Saya dilema sekali.
Akhirnya mereka bertiga berada di luar gerbong. Ponsel milik korban terjatuh. Rasanya lega sekali melihat korban berhasil menapatkan kembali ponselnya. Barulah petugas kemanan datang dan membawa mereka bertiga entah kemana. Sesudah itu teman perempuan si korban malah nanya ke saya, apakah dia harus ikut menemani. Lah, mbak gimana?

Setelah saya flashback dan pikir-pikir, reaksi saya sebenarnya berlebihan hahaha. Copet itu nggak mungkin bisa kabur, karena stasiun bukan area bebas. Dia harus melewati gate dulu, dimana entah persis di gate ataupun di sekitaran gate pasti ada banyak petugas kemanan. Tapi entah kenapa saya malam itu berekasi seperti itu. Sebenarnya bisa jadi karena saya pernah menjadi korban penjambretan, penjambretan lho, pake ada adegan saya ngejar copetnya. Kedua, saya terlalu banyak nonton video social experiment, dimana sering kali saya kesal dengan orang-orang yang cuek bebek berlalu begitu saja melihat ada orang yang dipukulin (misalnya).

Terlepas dari semua itu, kira-kira kenapa bapak di sebelah saya diam saja ya? Hm.