Pijat di Martha Tilaar Spa


Udah lama banget pengen pijat-pijat di tempat spa, tapi ngak pernah berani untuk sekedar tengok-tengkok harga karena takut sakit hati, ehhhhh akhirnya kesampean juga. Semua berkat salah satu teman saya yang memberi tahu bahwa ada voucher discount Martha Tilaar Spa di lakupon. Saya nggak punya banyak pengalaman dipijat-pijat, karena enggak pernah suka. Biasanya kalau rasanya bukan sakit, pasti geli. Tapi kali ini Martha Tilaar Spa memberikan saya pengalaman yang berbeda, sampai-sampai pengen balik lagi ke sana, suer! Ngomong-ngomong ini bukan review ya, sekedar berbagi pengalaman dan sama sekali nggak disponsorin oleh Martha Tilaar :(.

Buat teman-teman yang ingin tahu bagaimana bagian dalam spanya, maaf sekali karena saya nggak diizinkan mengambil gambar. Tapi saya akan memberikan sedikit gambaran aja melalui tulisan ya. Awalnya saya pikir di dalam itu sempit, tapi ternyata enggak. Pasalnya waktu mau booking, petugasnya mengatakan kalau hanya bisa dua orang. Mungkin karena saya pakai kupon, jadi dijatahin. Sampai di dalam ternyata tempatnya cukup besar. Bagian dalam itu terdiri dari empat bagian, tempat pijat kaki, salon, kamar mandi dilengkapi shower (tanpa wc) dan tempat pijat (kasur) yang dibatasin gorden-gorden. Di dalam itu nyaman banget, nggak berasa lagi ada di dalama Mall, karena spa ini memang letaknya di dalam Mall. Lampu ruangan yang dibuat redup dan alunan musik jawa yang terdengar, bikin suasana jadi rileks banget.

Sebelum dipakaikan kemben, saya diberi sandal ganti terlebih dahulu dan proses pijatnya berlangsung selama satu jam tiga puluh menit, padahal harusnya satu jam empat puluh lima menit (menurut kupon sih begitu 😛). Sebelum pijat, saya dikasih minuman rasa lemon, tapi warnanya nggak kuning, saya lupa apa namanya. Pemijatannya dimulai dari kaki, tangan dan kemudian punggung. Ah, rasanya enak banget. Bagian yang paling saya suka sih pijat kaki, rasanya kaki jadi enteng banget. Belum lagi pijat bagian telapak kakinya, wah itu luar biasa. Maklum deh kaki saya ini setiap hari dibawa ngejar-ngejar kereta. Apa saya tertidur? Pengen banget, tapi saya berusaha terjaga karena takut kebablasan dan susah dibangunin. Selesai pijat kita boleh pilih mandi atau hanya dilap kain basah dan habis itu kembali dikasih minuman, boleh pilih lemon atau ginger apalah-apalah.


Secara keseluruhan saya suka banget pijat di Martha Tilaar. Pelayanannya memuaskan sekali, kecuali bagian bookingnya. Dari awal mereka sudah menyanggupi untuk mengikuti jam saya. Tapi beberapa jam sebelum jadwal yang sudah dijanjikan, saya malah diminta datang lebih cepat dikarenakan Therapist mau buka puasa. Padahal menurut perhitungan saya, pukul 5.15 acara pijat dapat dipastikan sudah selesai. Setelah didiskusikan mereka menyanggupi jadwal sesuai di awal. Dua jam sebelum janji, saya dapat sms untuk datang lebih cepat, yaelah deh nggak konsisten amat ya. Terlepas dari resenya acara perbookingan, hal itu nggak bikin saya ogah balik.

Berapa sih harganya? Berhubung saya pakai kupon saya cukup membayar Rp 129,000 untuk paket Reflexology dan Aromassage (yang sedari tadi saya singkat jadi pijat-pijat). Punya rekomendasi tempat spa lainnya? Share di kolom comment ya. 

Sekian dan selamat pijat! 🙂

Advertisements

Sisa gigi yang tertinggal

Sewaktu menulis tulisan ini, di mulut saya masih ada kasa, baru saja selesai operasi. Ya, hari ini saya operasi graham bungsu yang kedua kalinya, karena hasil foto panoramic menunjukan ada sisa gigi yang tertingal. Operasi pertama saya sebelumnya sudah saya ceritakan di sini dan apa yang saya alami pasca operasi ada di sini.

Operasi pertama saya mungkin bisa dibilang ngaco (Eh?) sehingga saya harus dua kali operasi di tempat yang sama. Apa saya kembali lagi ke dokter pertama saya yang mengoperasi saya? Ogah, takut. Atas rekomendasi temannya teman yang operasi graham bungsunya juga bermasalah, saya mempercayakan operasi kedua saya ke SmileWorks Dental Care di Kelapa Gading. Kenapa saya akhirnya memutuskan dioperasi di sana? Karena background dokternya luar biasa banget, silahkan cek sendiri, dr. Marzella M. Lestari. Pengalaman operasi graham bungsu mengajarkan saya untuk nggak mudah percaya sama dokter dan jangan percaya sama satu diagnosa aja. Pasalnya saya sempat dirujuk untuk fisioterapi oleh dokter bedah mulut di RS. Mitra karena ada indikasi Trismus. Puji Tuhan saya nggak lakukan itu, karena saya akhirnya bisa memasukan sendok makan ke dalam mulut begitu memasuki minggu keempat pasca operasi pertama. Lumayan save berapa juta itu 😄

Pengalaman operasi kedua ini menurut saya lebih baik dari yang pertama. Operasi graham bungsu kali ini menurut saya persiapannya luar biasa banget, saya seolah-olah mau operasi besar. Beberapa menit sebelum operasi saya disuntik dulu dan rasa sakit jarum suntiknya antara ada dan tiada, haleluyah! Obat biusnya sama sekali nggak pait, rasanya enak di mulut, ada mint-mintnya gitu kayak mouthwash. Setelah itu saya dikasih dua obat minum dan diminta tunggu sebentar di ruang tunggu. Nggak lama saya masuk ke ruangan operasi, tidak boleh pakai alas kaki dan harus pakai baju operasi. Area di sekitar bibir saya olesi cairan yang katanya untuk mensterilkan. Bibir saya diolesi Vaselline, mungkin karena harus mangap dalam jangka waktu yang lama, supaya bibir saya nggak tersiksa. Selama operasi dokternya juga terus-terusan memastikan keadaan saya apakah baik-baik saja dan merasakan sakit atau tidak. Ah love banget dr. Marzella ini ❤️

Pertama kali pakai baju operasi

Selesai operasi saya dikasih lihat serpihan-serpihan gigi yang tertinggal, ternyata banyak! Dan yang lebih bingung lagi, ada satu serpihan yang ukurannya itu cukup besar yang nggak mungkin kasat mata menurut saya. Bingung banget deh kenapa bisa ketinggalan sebesar itu. 

Tulisan ini sama sekali nggak bermaksud menjelek-jelakan rumah sakit sebelumnya ya dan saya sama sekali nggak disponsorin oleh SmileWorks Dental Care. Saya pergi ke rumah sakit pertama karena ada teman yang pernah operasi di sana dan nggak ada keluhan sama sekali setelahnya. Tulisan ini murni berbagi aja apa yang saya alami pasca operasi graham bungsu. Pasalnya saya sempat browsing-browsing apa yang saya alami, kasusnya sedikit sekali. Jadi saya harap tulisan ini bisa membantu siapapun kalian di luar sana yang mengalami hal kayak saya. Tapi saya berharap nggak ada sih, nggak enak banget soalnya. Nantinya saya akan update lagi perkembangan pasca operasi kedua ini. Till next post!

Untuk siapapun di luar sana,

Tolong baca sampai habis. Siapa tau diantara kalian punya seseorang yang pernah mengalami hal serupa dengan gue.

Hari ini sudah dua minggu lebih sejak gue operasi graham bungsu. Terakhir gue ke Rumah Sakit tempat gue operasi, itu minggu lalu untuk buka jahitan. Gue sempat menanyakan ke dokter mengenai keadaan gue yang menurut gue ‘tidak normal’, katanya kedaan gue normal. Tapi sekarang gue jadi ragu, karena ini sudah dua minggu lebih. Leher gue masih susah nengok, pipi gue dekat gusi yang kemarin giginya diambil masih ada jendolan, bagian bawah pipi gue masih bengkak, rahang gue hanya bisa membuka satu jari, di bawah pipi gue pun masih ada bengkak, lidah gue terasa kelu. Ada apa dengan gue?

Gue berusaha browsing sana sini, tapi nggak menemukan solusi, yang ada malah gue takut karena ada indikasi Temporomandibular Joint Disorder (TMJ) atau Trismus. Hari ini gue juga sudah ke dokter lain untuk second opinion karena ragu untuk kembali ke Rumah Sakit tempat gue operasi. Dokter memegang wajah gue, dia seperti keheranan kenapa masih ada benjolan dengan rentang waktu yang sudah cukup lama. Gue juga sempat diminta untuk mengatup dan membuka gigi gue, dia bilang rahang gue baik-baik saja. Lalu dia menyarankan gue untuk rontgen untuk melihat kondisi rahang gue. Hasil rontgen gue menyatakan tidak ada yang salah dengan rahang gue, hanya saja ternyata dia sana ada serpihan gigi yang tertinggal. Dia bilang, lebih baik kembali ke dokter yang menangani operasi gue. Jujur, gue takut luar biasa, gue nggak mau harus membuka mulut untuk disuntik lagi dan dikuret. Walaupun dia bilang, kuret tidak seperti operasi. Tapi entah kenapa, semua pernyataan dokter terdengar meragukan di telinga gue. Apa mungkin karena gue tidak bisa melihat mimik wajahnya yang ditutupi masker? Ataukah diapun ragu dengan kondisi gue? Atau dia nggak ngerti alasan di balik kondisi gue?

Dia meresepkan gue obat, dia juga merujuk gue ke dokter fisioterapi. Gue merasa sedih yang tidak tertahankan. Gue merasa sekarang gue lagi drama banget. Tapi gue juga nggak bisa nggak merasa sedih atas kondisi gue. 

Untuk siapapun di luar sana, pernahkah ada teman, saudara atau kenalan yang mengalami hal serupa?  

Operasi graham bungsu

Graham bungsu saya sebenarnya sudah tumbuh lama sekali, mungkin sekitar empat tahun yang lalu. Tapi waktu itu saya berfikir ini hanya tumbuh gigi biasa, jadi nggak mau diambil pusing. Emang sih selama pertumbuhannya, gusi saya sering cenat-cenut, bahkan berdarah kalau kena sikat gigi. Saya konsultasi ke dokter gigi, waktu itu disarankan kumur dengan betadine untuk meredam rasa sakit dan rontgen gigi untuk tahu bagaimana posisi si gigi, apakah perlu diambil atau tidak.

Hal yang saya lakukan dari dua saran dokter di atas hanya berkumur dengan betadine dan nggak pergi rontgen gigi. Pasalnya berkumur dengan betadine membantu banget dalam mengatasi sakit. Jadi saya pikir sudah tidak ada masalah. Tapi setelah dipikir-dipikir, sampai kapan mau berkumur dengan betadine? Lagipula saya merasa makin ke sini rasanya posisi gigi di depan graham bungsu ini makin nggak beres, dia semakin terdorong, belum lagi makanan suka nyangkut di dalam gusi si graham bungsu, lumayan bikin cenat-cenut. Terkadang lidah saya juga saya julurkan ke gusi graham bungsu dan ada bau tidak sedap dari sana sehingga saya jadi kurang pede.

Akhirnya dua minggu lalu saya putuskan rontgen gigi dan ternyata posisi graham bungsu saya posisinya miring, persis seperti gambar di bawah ini. 


Sumber foto
Hasil googling sana sini menyatakan kalau si graham bungsu harus dioperasi. Mendengar kata operasi saya ciut banget. Belum lagi biaya yang harus dikeluarkan tidak sedikit. Operasi graham bungsu ditangani oleh dokter bedah mulut, bukan dokter gigi biasa.

Tiba saatnya saya harus dioperasi. Saya disuntik sebanyak empat kali dan rasanya lumayan cekat-cekit sewaktu si jarum menusuk gusi saya. Dokter bilang, posisi gigi saya ini susah banget, sehingga gigi saya tidak bisa diambil dalam keadaan utuh, harus dipecah dulu. Dokternya juga menyampaikan kalau kemungkinan ada dampak kesemutan yang akan timbul di sekitar bibir saya dalam waktu yang lama, sekitar tiga bulan sampai setahun karena ini berhubungan dengan saraf. Kedengarannya memang menakutkan banget, bahkan saya sampai memastikan ke dokter kalau ini bukan hal yang membahayakan.

Operasi dimulai. Rasanya nggak sakit, tapi seolah-olah tulang rahang saya mau copot, saya sampai mengangkat tangan beberapa kali. Tapi dokternya mengabaikan saya 😂. Sangkin lebaynya rekasi saya, dokter sampai meminta asistennya untuk memegangi kepala saya. Begitu dokter bilang sudah selesai dan tinggal dijahit, rasanya lega luar biasa!! Ini untuk pertama kalinya saya dijahit dan saya bisa merasakan benangnya di bibir saya waktu dokternya menjahit.

Ini sudah hari kedua setelah saya operasi. Gusinya sudah tidak sakit,  justru tenggorokan saya yang sakit sehingga saya susah menelan apapun dan pipi bengkak. Tulisan ini bukan bermaksud menakut-nakuti, hanya mau berbagi pengalaman saya dioperasi. Reaksi tubuh setiap orang tentunya beda-beda. Teman saya sehari setelah operasi sudah bisa makan ayam McD hahaha, saya mau nelan bubur aja nggak bisa. Saya bahkan sempat demam beberapa jam setelah operasi, sedangkan teman saya tidak sama sekali, cukup minum obat, tidur dan begitu bangun sudah hilang rasa sakitnya.

Biaya operasi graham bungsu beragam, tergantung rumah sakit dan tingkat kesusahan gigi kita. Kebetulan saya ambil di Lakesgilut AU di halim (RSGM AU), harganya satu setengah juta sampai  dua setengah juta (bisa berubah sewaktu-waktu). Buat siapapun yang mau operasi graham bungsu, lebih baik jangan ditunda-tunda deh, biar cepat selesai rasa takutnya 😄

Belajar dari awal

“Kerja itu beda banget sama apa yang lo pelajarin waktu kuliah. Lo akan belajar lagi dari awal” kurang lebih begitu jawaban yang dilontarkan setiap orang yang saya tanya kerja itu gimana. Awalnya saya nggak percaya, masa iya udah capek-capek belajar seratus empat puluh enam sks nggak kepake sama sekali nanti pas udah kerja?Sebelum kerja, saya punya ketakutan yang luar biasa banget. Gimana kalo nanti saya lupa semua teori yang pernah saya pelajarin waktu kuliah? Gimana kalau saya lupa jurnal? Gimana kalau ditanyain isi PSAK? Gimana kalau orang yang saya tanyain merasa jengkel kalau saya nanya terus? Gimana, gimana, gimana. Semua orang bilang, tenang, lo pasti diajarin. Lagian di kantor itu udah pake sistem kali, jadi gampang. Tetep aja saya masih nggak percaya. Bahkan saya sampai ngajak ketemuan salah satu teman SMA saya yang ternyata megang posisi yang sama di kantornya. Walaupun di hari pertemuan kami nggak bahas hal-hal teknis, karena ya nggak mungkin, rasa takut saya cukup berkurang setelah ngobrol sama dia.

Tiba di hari H saya mulai kerja. Hari pertama saya diajarin penggunaan sistem yang dipakai di kantor, gimana cara input data dan cara memperoleh datanya. Hari itu merupakan hari yang penuh tekanan banget buat saya. Bukan, bukan karena orang di kantor. Saya emang punya sindrom takut luar biasa kalau baru mempelajari sesuatu yang baru. Simpel, saya takut nggak bisa, gitu aja. Ternyata apa yang dibilang banyak orang benar. Seluruh jurnal yang pernah saya pelajari, segala macam transaksi yang saya kerjakan waktu kuliah kemarin nggak ada yang kepake sampai detik ini. Ada yang nanyain PSAK? Nggak tuh. Haleluya!

Saya nggak bilang kalau ini berlaku untuk semua bidang pekerjaan ya. Hal ini berdasarkan pengalaman saya dan beberapa teman yang satu jurusan sama saya. Kami juga bekerja di bidang dengan kualifikasi yang sesuai jurusan kami. Kebetulan apa yang saya kerjakan juga spesifik banget di kantor. Duh enggak kebayang sih ngerjain seluruh transaksi, nggak mungkin juga kayaknya. Jadi ya bener, kerja itu belajar lagi dari awal, tapi nggak sebanyak seratus empat puluh enam sks.

Boleh nggak sih nanya terus ke orang kantor? Boleh banget lah, apalagi kalau kita anak baru. Malahan, nanya itu sangat disarankan dibanding sok tahu, karena kantor adalah perusahaan nyata bukan fiktif kayak waktu kita kuliah.

Ini udah bulan ke empat saya kerja di kantor ini. Seluruh ketakutan saya di awal nggak terbukti. Semua orang yang saya tanyain mau banget jawab dengan baik, kecuali satu orang #eh. Akhirnya saya bisa karena terbiasa. 

Till next post 🙂