Seputar perilaku commuters

Sekarang saya lagi duduk di jalur dua. Habis diphpin sama kereta yang ternyata tujuannya ke tempat lain. Tentunya saya nggak sendirian, banyak orang juga yang sudah berbondong-bondong pindah jalur dari jalur empat karena melihat petunjuk yang tertera di kereta. 

Dulu pertama kali saya naik kereta dalam kota, saya bersumpah nggak akan pernah lagi naik kereta, kapok! Waktu itu hujan, kereta penuh bukan main, pendingin kereta bahkan sudah tidak terasa lagi. Posisi saya berdiri waktu itu nggak enak banget, rasanya mau nangis. Sekarang? Saya sudah biasa dengan semua itu dan tau strategi supaya bisa dapat posisi enak. Tapi kadang sial juga, leher dan pinggang jadi sakit karena posisi berdiri yang jauh dari nyaman sangkin penuhnya.

Banyak kelakuan ajaib dan menjengkelkan dari commuters (pengguna commuter line) yang dulu bikin saya nggak habis pikir, tapi sekarang yasudahlah… Udah tahan banting.

Commuters suka banget berdiri melewati batas aman jalur kuning. Sumpah ya ini kelakuan bikin saya heran banget. Itu jalur kuning dibuat untuk suatu tujuan yaitu safety, tapi banyak orang yang sebegitu nggak pedulinya. Bahkan ketika petugas keamanan sudah menyisir jalur supaya mereka berdiri di belakang garis kuning, pasti habis itu mereka maju lagi ke depan garis kuning. 

Suatu hari adik naik kereta di rush hour sama saya. Kebetulan dia belum pernah naik kereta saat rush hour. Dia nanya “itu harus banget ya lari-lari gitu?” Yap, commuters doyan banget lari-lari mengejar kereta. Saya salah satunya. Biasanya begitu sampai di stasiun transit, kereta sambungan sudah ada, jadi ya mau nggak mau kan?

Commuters terobsesi banget sama tempat duduk yang bikin mereka jadi nggak sabaran. Perilaku yang nggak sabaran ini menghasilkan dorong-dorongan yang bisa bikin kecelakaan kecil. Salah satu korbannya adalah saya. Saya pernah terjatuh begitu naik ke dalam gerbong, udah begitu saya diomelin juga sama ibu di depan saya yang juga terjatuh. Suatu hari juga pernah ada yang terjepit tangannya, ugh serem banget. Dear commuters, nanti di kantor kan juga duduk seharian. 

Perilaku nggak sabaran yang bikin dorong-dorong hanya terjadi ketika mau naik gerbong, tapi juga ketika ‘migrasi’ dari satu gerbong ke gerbong lain. Semisal gerbong sudah agak kosong, nggak sedikit orang yang pilih untuk jalan ke gerbong depan. Nah ini, orang terkadang suka mepet-mepet sewaktu berjalan, ada juga yang kadang tangannya dorong-dorong di punggung bikin saya risih banget. Biasanya kalau sudah gitu, saya gerakin punggung saya sebagai gestur supaya mereka nggak dorong. Sejauh ini selalu mempan.

Commuters sekarang ini masih belajar menggunakan jalur kanan tangga berjalan (eskalator) untuk berjalan dan jalur kiri untuk diam. Kenapa saya bilang masih belajar? Karena ya kebanyakan masih suka males-malesan, kecuali petugas kasih tau lewat toa. Salah satu teman saya bahkan menganggap tangga berjalan itu nggak seharusnya dipake untuk berjalan hahaha. 

Kalau gerbong campur cenderung stabil goyangannya, maka gerbong wanita ya harus pasrah goyang ke kanan dan ke kiri ketika kereta berbelok. Kalau kata teman saya, cewek-cewek banyak yang cenderung males pegangan. Ya mungkin ini terkait tinggi badan juga sih. Cowok-cowok cenderung lebih tinggi, jadi ketika tempat berpegangan habis, mereka masih bisa berpengangan pada tiang atas. Sudah begitu, gerbong wanita juga cenderung lebih berisik ketika rem mendadak, kereta berbelok dan miring. Biasanya kalau udah begitu, masinis pasti disalahkan karena nggak bisa bawa kereta, katanya hahaha. Tapi seru sih kadang kalau mood saya lagi bagus, berasa lagi naik wahana di dufan dan ketawa aja dalam hati.

Dimana tempat favorit commuters berdiri? Tentu di depan pintu. Orang-orang yang berdiri di depan pintu ini bikin kereta jadi terlihat dan terasa penuh, padahal sebenernya masih bisa bergeser ke tengah. 

Kalau ada commuters di kereta yang sepanjang jalan ngeluhin sesaknya kereta dan teriak-teriak kalau kereta sudah penuh ke penumpang yang masih di luar agar tidak masuk, bisa dipastikan mereka adalah newbie di perkeretaan. Karena kalau yang udah lama kayak saya #ceileh, dapat dipastikan sudah bodo amat. Malahan biasanya kami mendukung untuk masuk selama penumpang yang masih di luar kuat mendorong. 

Sejauh ini, itu aja sih hasil pengamatan saya. Ada yang mau nambahin? Bagian mana yang bikin kamu paling takjub? 

Advertisements

5 Alasan untuk bersyukur 

Tadi malam saya dongkol banget sama seseorang. Kalau saya ceritain alasannya, saya yakin orang akan menganggap hal itu sebenarnya sepele banget. Tapi buat saya hal sekecil itu bisa bertarti segitunya. Bahkan sampai siang ini, sewaktu menulis ini saya masih kepikiran. Tadi pagi, sewaktu saya berdiri di kereta, saya juga kepikiran sambil scroll wordpress. Nemulah saya tulisan salah satu blogger yang saya follow tentang bersyukur. Tulisan yang lumayan banget ngurangin rasa dongkol saya dan jadi pengen buat tulisan serupa. Saya jadi mikir, perasaan semalam yang saya rasain itu seharusnya nggak menguasai saya sampai segitunya, faktanya banyak hal dalam hidup saya yang harusnya patut disyukuri. Mungkin kalau dijabarin satu-satu, ratusan buku juga nggak akan cukup. Tapi balik lagi, manusia emang susah bersyukurnya, dikit-dikit melihat ke atas. Sebentar-sebentar lupa kalau bisa bebas bernafas tanpa bayar tabung oksigen aja harusnya sudah bersyukur. 

Jadi tulisan kali ini saya mau jabarin hal-hal yang bikin saya bersyukur di hampir pertengahan bulan ini, sekalian sebagai pengingat untuk saya.

1. Bulan ini saya bakal ke Vietnam

Bulan ini, tepatnya minggu depan saya akan pergi ke Vietnam sama teman-teman kantor. Ini akan jadi pengalaman pertama saya berwisata ke luar Indonesia. Seneng? Banget. Apalagi seluruh biayanya ditanggung sama kantor dan nggak tanggung-tanggung naik pesawat yang bagus juga.

2. Bisa bawa bekal setiap hari

Nah ini. Ini harusnya saya bersyukur banget ada Mama yang setiap harinya masakin bekal buat saya. Menunya juga bervariasi banget. Nggak kebayang kalau setiap hari harus jajan di luar, menguras kantong, belum tentu bersih dan menunya itu-itu aja.

3. Gojek

Walaupun saya sudah pake gojek lama, sampai saat ini saya selalu bersyukur atas adanya aplikasi ini. Hidup saya pasti akan lebih sulit tanpa Gojek. Apalagi fasilitas gopaynya yang sangat praktis buat saya yang males banget bawa uang tunai.

4. ‘Hidup sejahtera’ di kantor

Di kantor, sering banget ada makanan gratis. Hal yang hampir nggak pernah terjadi waktu saya kuliah. Ya beda lah ya kantong mahasiswa sama orang kantoran.  Apalagi atasan saya, sering banget jajajanin ini itu, mulai dari minuman hits sampe makanan yang nggak pernah saya cobain. Terakhir kemarin dapet oleh-oleh seabrek-abrek dari satu ruangan, salak, beberapa potong ayam, satu kotak bakpia, telur asin dan daster batik! Kurang sejahtera apa coba? 

5. BISA BUKA MULUT LEBAR-LEBAR

Sempat nggak bisa buka mulut selama sebulan bikin saya sadar kalau ternyata bisa buka mulut dan masukin makanan ke dalam sana adalah suatu anugrah yang luar biasa.

Hmm setelah saya pikir-pikir, kayaknya bagus juga kalau sering-sering bikin tulisan semacam ini. Terima kasih buat yang sudah baca dan semoga selalu dilimpahi rasa syukur 🙂

Dear M,

Saya tahu, kemungkinan besar surat ini nggak akan pernah kamu baca. Hanya saja, saya butuh media untuk menumpahkan kemarahan saya sama kamu. Datang ke rumah kamu? Mama saya bilang tidak usah. Keluarga kamu tipe yang suka cari gara-gara, yang ada hanya memperpanjang masalah. Datang ke gereja tempat kamu melayani untuk membeberkan kelakuan kamu? Ingin sekali saya lakukan sebagai bentuk balas dendam. Tapi saya tahu, kemungkinannya kecil sekali untuk mereka percaya apa yang saya katakan. Saya hanya jemaat reguler, bukan kamu yang setiap minggunya menari-nari di atas sana. Laporin kamu ke polisi? Saya tahu keluarga kamu jauh lebih berada dari keluarga saya, bisa-bisa besok kami tidak makan lagi karena harus bayar pengacara.

Saya masih ingat waktu adik saya masih duduk di Sekolah Menengah Pertama. Waktu itu rambutnya pendek dan pirang karena sering berada di bawah sinar matahari. Kalau saya lihat-lihat sekarang, dulu dia nggak ada menarik-menariknya (sorry dek!). Tapi waktu itu ada beberapa cowok yang naksir dia. Kebetulan salah satu diantaranya ada yang kamu taksir, ya kan M? Saya rasa sejak saat itu kamu mulai membenci adik saya. Kamu mulai dengan cara menyindir-nyindir, kamu ajak teman-teman yang lain untuk menjauhi dia. Selama tiga tahun, keadaan itu terus berlanjut. Pernah suatu hari mama saya datang ke sekolah dan ajak kamu bicara di ruang guru. Saat itu saya tidak di sana. Tapi mama saya bilang, kamu terlihat ketakutan. 

Tiga tahun berlalu sejak kejadian itu. Kamu dipertemukan kembali dengan adik saya di sebuah camp yang diadakan gereja tempat kamu melayani. Saat itu, adik saya melihat kamu dan kamu langsung buang muka. Tapi kemudian kamu bilang di grup sekolah SMP kalian, bahwa adik saya begitu sombong dan tidak mau menegur. Saya diam saja. Kamu bahkan punya utusan untuk memata-matai instagram adik saya. Apapun yang adik saya post selalu berbuah kalimat-kalimat negatif dari kalian. 

Kemarin, empat anak laki-laki yang adalah teman SMP kalian datang ke rumah, menunjukan isi chat-chat kalian yang menurut saya sudah melampaui batas. Kamu memfitnah, menjelek-jelekan, bahkan salah satu dari kalian bilang “kapan sih dia mati?” Seriously? Hati adik saya hancur sekali, dia gemetar dan menangis. Sudah tiga tahun berlalu. Ternyata kamu tidak berubah sedikit pun. 

Sebentar lagi adik saya akan jadi mahasiswi dan ketakutan terbesar dia adalah tidak punya teman. Sebagai kakak, saya sangat sedih mendengarnya. Sudah berkali-kali saya bilang, “lo pasti akan punya teman. Mental mahasiswa itu beda sama anak sekolah. Pasti ada teman”. Saya tahu itu tidak cukup untuk menyakinkan dia setelah apa yang dia alami.

M, salam untuk temanmu yang berinisial P. Bilang ke dia, dia tidak akan pernah menjadi cantik dengan hati yang isinya hanya penuh iri dengki. 

Regards,

Saudara perempuan orang yang kamu bully.

Picture from here

Birthday

I am not excited about it anymore. The fact that I am getting old scares me so much.

Can I buy my own house? Can I go to every places on my bucket list? Can I find a good guy that willing to do the dishes?

Will all these people I call friends still be here with me? 

Will I get better job and salary? Where will I be in five years?

Can I survive somewhere without my family someday?

I don’t want to my hair getting thinner. I don’t want any wrinkles on my face. In fact, I can see wrinkles under my eyes everytime I smile. 

Hari paling nggak fokus

Jadi tadi pagi saya pesan uber motor, hasilnya mengejutkan, saya dapat driver yang baru bisa tiba dua puluh empat menit kemudian di lokasi penjemputan saya *dear Uber, please*. Kemudian saya cancel dong, nggak mungkin nunggu selama itu. Begitu cancel saya dapet lagi driver yang sama, habis itu langsung nyerah pake uber dan pesen gojek. Wah beruntung sekali karena gojek lagi lebih murah dari biasanya, nggak mau kalah mungkin sama uber. Oke saya sadar betul sedang pakai aplikasi gojek, saya juga sadar betul helm yang saya kenakan hijau bukan orange tapi…. saya kemudian mengambil uang lima ribu rupiah dari dompet. Begitu tiba di lokasi, saya mencopot helm, nungguin bapaknya yang kok tidak kunjung ngecek hpnya.. berhubung saya buru-buru langsung aja saya sodorin lima ribu rupiahnya.
“Pak saya dapat promo, paling nol rupiah sih, ini pak” *nyodorin goceng*

“Sudah pakai Go-pay Mbak”

“Oh sudah pakai Go-pay ya? Makasih Pak”

*sambil jalan masih mikir, barusan gue bukan naik uber ya?*

Ok, pagi tadi adalah hari dimana saya paling nggak fokus sepertinya. 

Posted in Uncategorized