Have you ever?

Have you ever met people that the more you get to know them the uglier they become?

I am talking about their personality.

Advertisements

Curhat untuk ke sekian kalinya

Kepala gue penuh sama pikiran-pikiran menyebalkan. Gue bingung, kenapa otak gue ini lebih mudah menyerap hal-hal negatif daripada positif? Gue terkadang bisa kesal sama hal-hal sepele. Misal tadi, gue disuruh kasih tau A untuk suruh A pakai make up. Menurut gue itu nggak make sense. Pertama, gue sama A nggak dekat, kedua gue bukan siapa-siapa yang punya otoritas ngasih tau A untuk pakai make up (contohnya gue membawahi si A terus gue tau A mau ketemu client penting), ketiga gue bener-bener nggak nemu alasan kenapa gue harus nyuruh A pakai make up. Dia juga masih berkabung. Ada apa dengan sebagian orang di dunia ini? Kadang gue muak sama diri gue karena gue tidak bisa menyuarakan apa yang ada di otak gue karena gue terlalu takut merusak hubungan dengan si lawan bicara, oleh karena itu gue jadi kesal sendiri. Terus gue malah jadi curhat di sini.

Taichan Goreng (Rachel Venya)

Udah lama pengen nulis di blog, tapi nggak tahu mau nulis apa. Akhir-akhir ini gue lagi suka banget nonton video-video orang makan dan berakhir bikin gue ingin nulis soal makanan juga #yeelatah. Minggu lalu gue pergi ke salah satu tempat makan punya seseorang yang cukup terkenal di instagram maupun youtube, gue nggak tahu harus menyebut titelnya dia apa, mari kita sebut saja Rachel Venya. Udah lama sebenarnya gue ingin makan sate taichan punya dia, tapi baru kesampaian minggu lalu. Gue mau cerita pengalaman gue di sana aja ya, bukan mau review. Gue bukan ahlinya dalam hal ini.

Lokasi tempat makannya ada di Tebet. Sebenernya dia udah buka beberapa cabang, kebetulan gue perginya ke Tebet. Begitu kita sampai sana, kita langsung pesen makanannya di depan, nanti kita dikasih kertas yang berisi menu, tinggal isi mau pesan berapa banyak kemudian diinput ke komputer oleh cashier dan langsung bayar. Setelah itu kalau rame maka kita harus tulis di kertas waiting list. Mau nunggu di dalem atau di luar? Terserah, yang penting denger pas dipanggil.

Tempatnya sendiri menurut gue sederhana banget dan kecil. Pelayanan agak lama, kemaren gue ke sana memang lagi rame kebetulan. Tapi apakah tempat ini pernah sepi pengunjung? Rasanya tidak. Dessert gue malah keluar duluan baru makanan utama.

Apa aja yang gue pesan waktu makan di sana? Sate taichan paha ayam, sate udang, sate kulit, mie… (semacam mie goreng yang gue lupa namanya) dan pisang tusuk berbalut coklat (percayalah namanya bukan pisang tusuk hahaha).

Dari semua menu yang gue pesan, sate kulit ayam adalah juaranya, serius enak banget. Buat penggemar kulit ayam, wajib dicoba. Sate taichan paha ayamnya sih so so, nggak bikin gue kaget. Tapi gue pasti pesan lagi kalau ke sana. Sebagai penggemar udang, sate udangnya nggak bikin nagih. Rasanya nggak buruk, tapi yaudah gitu doang. Gue prefer makan udang balado di rumah buatan mamak. Untuk pisang tusuknya, kalau gue sendiri nggak terlalu suka. Ukuran pisang yang gede (menurut gue), baluran coklat di liar ditambah pisangnya juga sudah manis, gue nyerah. Gue merasa makan pisangnya cukup satu gigitan saja, nggak kuat karena manis banget. Mungkin juga karena waktu itu gue udah kenyang ya. Anyway, sambelnya mereka itu pedes banget banget. Gue sebagai penggemar pedes aja angkat tangan. Setiap penyajian satenya, mereka sertain bubuk kuning yang rasanya asin-asin gurih, pas banget sama untuk dicocol sate taichan paha ayamnya.

Gue nggak inget masing-masing harganya berapa. Pesanan gue waktu itu:

– 10 tusuk sate taichan paha ayam

– 15 tusuk sate kulit

– 5 tusuk sate udang

– 2 tusuk pisang

– seporsi mie goreng

– 1 porsi nasi

– 2 gelas ice tea

Total pesanan gue hari itu sekitar Rp. 175.000,-. Nah kalau kamu pesan di atas Rp 200.000,- kamu bisa duduk di area VIP.

Sate taichan paha ayam
Sate udang
Sate kulit ayam
Mie goreng
Pisang tusuk

Minuman coklat favorit❤️

Foto di atas adalah minuman coklat favorit gue. Gue tahu minuman ini dari bos gue. Waktu minum ini untuk pertama kalinya, gue langsung jatuh cinta dan kebayang-bayang terus sama rasanya. Ini nggak bermaksud lebay ya, tapi pertama kali nyoba ya seenak itu sampai susah lupain rasanya dan pengen terus. Coklatnya kental (cukup pakai cangkir kecil ya, tapi bukan cangkir espresso 😛) dan rasanya ada pahit-pahitnya. Gue selalu seduh pakai air panas dan minum lagi hangat-hangatnya tuh enak banget. Kalau lebih suka yang lebih manis, ada satu merk yang juga nggak kalah enak, merknya AIK CHEONG. Tapi buat yang nggak suka teralu manis, KOKOO pas banget di lidah.

Produk ini gampang banget di cari di online store, tinggal googling aja. Harganya kurang lebih enam puluh ribu, satu bungkus isi lima belas sachet. Selamat mencoba!

Pertemuan kita.

Hari itu hari minggu. Pagi harinya aku masih merasa biasa aja. Siang nanti kita akan bertemu. Aku sudah memikirkan apa yang akan kita bicarakan nanti. Maklum saja, aku memang tipe yang seperti itu. Aku perlu menyusun rencana. Aku bukan orang yang spontan.

Ini akan jadi kencan pertama kita. Mungkin juga yang terakhir. Aku ingin memberi kesan yang baik di mata kamu. Aku sengaja meminta adikku mendandaniku, karena dia lebih pintar dalam hal ini. Aku putuskan memakai baju terusan selutut bunga-bunga kesukaanku. Sebenarnya bukan keputusanku, adikku yang menyarankanku. Eh, lagipula temanku juga bilang aku cantik dalam baju itu. Mungkin ini akan jadi nilai tambahku di matamu.

Kelihatannya aku berusaha sekali ya? Memang. Walaupun aku tidak ada perasaan apa-apa, tapi tetap saja aku harus tampil sebagus mungkin bukan?

Ini akan jadi pengalaman yang pertama buat aku. Selama ini aku terlalu takut. Tapi temanku meyakinkanku bahwa aku harus mencobanya. Lagipula setelah percakapan terakhir kita di bulan lalu, aku tidak menyangka kamu akan mengingatnya. Padahal aku hanya basa-basi.

“Hai, masih ingatkah?” Tiba-tiba ada pesan masuk darimu.

Oh damn, kataku dalam hati.

“Hai, apa kabar?” Balasku. Lalu aku memutuskan untuk bertemu kamu di salah satu Coffee Shop di sebuah Mall yang sudah sangat familiar denganku. Bagaimanapun kamu orang asing. Tapi aku yakin sih kamu orang baik. Tapi tidak ada salahnya untuk berjaga-jaga bukan?

Hari itu hari yang luar biasa mendebarkan buatku. Untungnya tanganku tidak dingin sama sekali. Jadi kamu tidak akan tahu kalau aku luar biasa gugup saat kita bersalaman. Kenyatannya kamu tahu.

“Kamu gugup ya?”

“Iya” Aku malu luar biasa. Bagaimana mungkin kegugupanku begitu terlihat? Benar kata temanku, aku memang ekspresif.

Hari itu kamu duduk di meja dekat pintu masuk. Tapi aku tidak menyadarinya. Kamu juga tidak sadar kalau aku baru saja lewat. Begitu aku duduk dan melihat punggungmu, perasaanku begitu kuat bahwa itu kamu. Bagaimana aku bisa tahu itu kamu? Bentuk kepalamu, aku ingat foto dari samping di profilemu. Aku begitu gugup, aku hubungi dia tepat 13.59 saja nanti, pikirku. Di jam yang sama, ada pesan masuk darimu. Aku tertawa dalam hati.

“Beda banget ya sama fotonya?”

“Kamu di foto lucu sih, ekspresif banget”

Ah, itu pasti fotoku dengan si badut rambut merah yang kamu maksud. Padahal teman-temanku bilang foto itu jelek sekali. Mereka bilang aku lebih cantik aslinya. Well, nampaknya kamu tidak sepemikiran dengan mereka.

Jujur, kamu lebih baik dibanding foto profilemu. Aku tidak menyangka akan melihat sosok tinggi dengan suara yang menyenangkan. Hey, kamu punya banyak rambut putih.

Kita ngobrol, mulai dari jumlah saudara masing-masing, dua buku yang dulu pernah kamu selesaikan, siapa saudara yang paling dekat denganmu, fakta bahwa kamu sudah lama tidak beribadah dan pandanganmu terhadap agama, fakta bahwa kamu tidak pernah menyukai apapun seperti aku terobsesi dengan buku petualangan di dunia sihir, harga iPhone terbaru yang overpriced, komitmen sepuluh tahun dengan mantan pacarmu yang membuat aku kagum setengah mati, cerita bagimana kamu bisa foto di kokpit pesawat, terakhir kecintaanmu terhadap pekerjaanmu yang membuatku tak kalah kagum.

“Jadi nggak suka jalan-jalan ke luar? Misalnya Sumba gitu” tanyaku.

“Di sana bisa kerja juga nggak?” Kamu benar-benar sesuatu. Di satu sisi ini menarik, di sisi lain ini mengecewakan. Ya, kamu harus bisa kerja dimanapun.

Tiga kali kamu mengecek arlojimu. Kamu juga selalu mengecek setiap orang yang lewat dan kebanyakan dari mereka perempuan. Aku bertanya-tanya, apa kamu mata keranjang? Atau ini hanya bentuk reaksi reflek tubuhmu saja? Apa aku membosankan? Atau fakta bahwa aku tidak terlihat sesuai dengan fotoku karena aku tidak memakai kacamataku hari itu? Aku sengaja pakai kontak lensa untuk hari itu.

“Nonton yuk” ajakmu setelah satu jam pertemuan kita. Apa aku membosankan sehingga kamu mencari cara lain agar tidak terkesan ‘brengsek’?

“Makan yuk” Tidak ada yang bisa aku telan hari itu. Minumanku saja tak sanggup aku minum. Oh Tuhan…

“Kamu pusing?” Tanyamu saat aku memegang alisku. Tidak, aku hanya tidak tahu harus apa. Aku frustasi setengah mati.

“Kamu kegerahan?” Tanyamu di waktu lain. Sepertinya aku menyentuh rambutku saat itu.

Ah, katamu whipped cream terlihat kekanakan. Aku sangat suka whipped cream.