Pertemuan kita.

Hari itu hari minggu. Pagi harinya aku masih merasa biasa aja. Siang nanti kita akan bertemu. Aku sudah memikirkan apa yang akan kita bicarakan nanti. Maklum saja, aku memang tipe yang seperti itu. Aku perlu menyusun rencana. Aku bukan orang yang spontan.

Ini akan jadi kencan pertama kita. Mungkin juga yang terakhir. Aku ingin memberi kesan yang baik di mata kamu. Aku sengaja meminta adikku mendandaniku, karena dia lebih pintar dalam hal ini. Aku putuskan memakai baju terusan selutut bunga-bunga kesukaanku. Sebenarnya bukan keputusanku, adikku yang menyarankanku. Eh, lagipula temanku juga bilang aku cantik dalam baju itu. Mungkin ini akan jadi nilai tambahku di matamu.

Kelihatannya aku berusaha sekali ya? Memang. Walaupun aku tidak ada perasaan apa-apa, tapi tetap saja aku harus tampil sebagus mungkin bukan?

Ini akan jadi pengalaman yang pertama buat aku. Selama ini aku terlalu takut. Tapi temanku meyakinkanku bahwa aku harus mencobanya. Lagipula setelah percakapan terakhir kita di bulan lalu, aku tidak menyangka kamu akan mengingatnya. Padahal aku hanya basa-basi.

“Hai, masih ingatkah?” Tiba-tiba ada pesan masuk darimu.

Oh damn, kataku dalam hati.

“Hai, apa kabar?” Balasku. Lalu aku memutuskan untuk bertemu kamu di salah satu Coffee Shop di sebuah Mall yang sudah sangat familiar denganku. Bagaimanapun kamu orang asing. Tapi aku yakin sih kamu orang baik. Tapi tidak ada salahnya untuk berjaga-jaga bukan?

Hari itu hari yang luar biasa mendebarkan buatku. Untungnya tanganku tidak dingin sama sekali. Jadi kamu tidak akan tahu kalau aku luar biasa gugup saat kita bersalaman. Kenyatannya kamu tahu.

“Kamu gugup ya?”

“Iya” Aku malu luar biasa. Bagaimana mungkin kegugupanku begitu terlihat? Benar kata temanku, aku memang ekspresif.

Hari itu kamu duduk di meja dekat pintu masuk. Tapi aku tidak menyadarinya. Kamu juga tidak sadar kalau aku baru saja lewat. Begitu aku duduk dan melihat punggungmu, perasaanku begitu kuat bahwa itu kamu. Bagaimana aku bisa tahu itu kamu? Bentuk kepalamu, aku ingat foto dari samping di profilemu. Aku begitu gugup, aku hubungi dia tepat 13.59 saja nanti, pikirku. Di jam yang sama, ada pesan masuk darimu. Aku tertawa dalam hati.

“Beda banget ya sama fotonya?”

“Kamu di foto lucu sih, ekspresif banget”

Ah, itu pasti fotoku dengan si badut rambut merah yang kamu maksud. Padahal teman-temanku bilang foto itu jelek sekali. Mereka bilang aku lebih cantik aslinya. Well, nampaknya kamu tidak sepemikiran dengan mereka.

Jujur, kamu lebih baik dibanding foto profilemu. Aku tidak menyangka akan melihat sosok tinggi dengan suara yang menyenangkan. Hey, kamu punya banyak rambut putih.

Kita ngobrol, mulai dari jumlah saudara masing-masing, dua buku yang dulu pernah kamu selesaikan, siapa saudara yang paling dekat denganmu, fakta bahwa kamu sudah lama tidak beribadah dan pandanganmu terhadap agama, fakta bahwa kamu tidak pernah menyukai apapun seperti aku terobsesi dengan buku petualangan di dunia sihir, harga iPhone terbaru yang overpriced, komitmen sepuluh tahun dengan mantan pacarmu yang membuat aku kagum setengah mati, cerita bagimana kamu bisa foto di kokpit pesawat, terakhir kecintaanmu terhadap pekerjaanmu yang membuatku tak kalah kagum.

“Jadi nggak suka jalan-jalan ke luar? Misalnya Sumba gitu” tanyaku.

“Di sana bisa kerja juga nggak?” Kamu benar-benar sesuatu. Di satu sisi ini menarik, di sisi lain ini mengecewakan. Ya, kamu harus bisa kerja dimanapun.

Tiga kali kamu mengecek arlojimu. Kamu juga selalu mengecek setiap orang yang lewat dan kebanyakan dari mereka perempuan. Aku bertanya-tanya, apa kamu mata keranjang? Atau ini hanya bentuk reaksi reflek tubuhmu saja? Apa aku membosankan? Atau fakta bahwa aku tidak terlihat sesuai dengan fotoku karena aku tidak memakai kacamataku hari itu? Aku sengaja pakai kontak lensa untuk hari itu.

“Nonton yuk” ajakmu setelah satu jam pertemuan kita. Apa aku membosankan sehingga kamu mencari cara lain agar tidak terkesan ‘brengsek’?

“Makan yuk” Tidak ada yang bisa aku telan hari itu. Minumanku saja tak sanggup aku minum. Oh Tuhan…

“Kamu pusing?” Tanyamu saat aku memegang alisku. Tidak, aku hanya tidak tahu harus apa. Aku frustasi setengah mati.

“Kamu kegerahan?” Tanyamu di waktu lain. Sepertinya aku menyentuh rambutku saat itu.

Ah, katamu whipped cream terlihat kekanakan. Aku sangat suka whipped cream.

Advertisements

I found something

I got lot of harsh comments from guys when I was younger. It’s hard. No one stands for me. Even my friend. I didn’t blame them. We were young.

They called me ugly. Elisa is ugly. She is the ugliest girl at our class. Look she got weird face. How come you look like that? Do you think someone would love you? Why would I flirt with her? You look old. You’re so tiny. Oh my God is that your nose? How could your glasses hanging on there? Your teeth, ugh. I still remember their face, clearly.

I grew up feeling insecure. I was at that point where I was so insecure meeting new people. I was afraid that they might freak out seeing my face. Yeah I’ve been there. It hurts (present tense because it’s still hurt) so much.

Then there is internet. I read lots of stuff about self love. I began to love myself. I began to think I am also pretty, maybe not to everyone but at least for me. I take care of myself. I accept myself (still trying to).

People, especially for teenagers (they can be really rude), please be kind. If you don’t think someone is pretty to your standards, it’s find. Just keep it on your mind.

Today, I found someting that I really like, my eyes.

I didn’t take the photo on purpose. The photo itself inspired me to write this.

Let’s love ourselves, even it’s not easy to do so.

Hey, it’s me

Bangga

Hari ini hari libur. Tapi sayangnya gue terbangun pagi -pagi sekali, terus nggak bisa tidur lagi. Jadilah gue memutuskan untuk masak semua stock sayuran di kulkas biar besok-besok tinggal panasin dan bisa lebih nyantai. Anehnya, sehabis gue masak, kok merasa bangga banget ya sama diri gue? Apakah ini bentuk kenarsisan gue? Hahaha. Tapi ngeliat hasil masakan ini entah kenapa bikin gue bahagia. Kenapa hari ini aja ya gue merasa begini? Padahal setiap hari gue masak. Yah nggak apa-apalah ya, jarang ada hari dimana gue merasa bangga sama diri gue.

#anakkosmasak

Oh bapaknya bule…

Disclaimer: Nggak bermaksud rasis ya.

👧: Adek gue

👩: Gue

Ada pesan masuk di whatsapp.

👧: Liat ig yang gue mention deh Kak. Anaknya kok matanya bisa biru dah (Yah maafin aja ya, adek gue rasa ingin tahunya tinggi)

👩: *Cek instagram* De, emaknya mix, bapaknya pure bule. Ya bisa atuh.

👧: Oh bapaknya bule, gue pikir batak *tarakdungces*

Ya maksud gue gini lho, walaupun gue liat kedua pasangan ini nggak ada yang bermata biru, mungkin salah satu anggota keluarganya yang terdahulu ada yang bermata biru, secara mereka kan kaukasian. Nah yang gue bingung, bagaimana mungkin adek gue berasumsi si lelaki bule tulen ini batak? Terngaco sejagat raya banget 😂. Gue rasa adek gue juga nggak sadar sih kalau Marisa ini mix, karena nama belakangnya. Makanya dia bingung kenapa bayi mereka bermata biru. Sungguh sebuah persoalan.

Apakah kalian bisa melihat sisi kebatakan si bapak?

Oh ternyata….

Gue itu lahir di tahun sembilan puluhan. Zaman gue masih duduk di bangku sekolah dasar, gue sering lihat ada orang-orang yang senam di televisi. Gue suka nontonin sebentar sambil mikir, ini orang ngapain sih kok senam di televisi? Maksudnya untuk apa? Habis itu pasti gue langsung pindah channel. Dan tahu nggak? Gue baru ngerti sekarang *gubrak*. Oh ternyata tayangan itu diperuntukan untuk orang-orang yang mau senam tapi mungkin nggak punya biaya buat bayar instruktur. Lagipula hemat waktu karena nggak perlu keluar rumah.

Tertanda,

Elisa, yang baru aja selesai zumba dance. Zumba dance dari youtube. Terus tiba-tiba teringat kenangan senam di televisi saat masa kecil.